Lanskap

Anatomi Satu Atap dan Obrolan-Obrolan yang Tak Pernah Selesai

Alinea Film ·
Anatomi Satu Atap dan Obrolan-Obrolan yang Tak Pernah Selesai

Ada sesuatu yang terasa dekat dari banyak film pendek tentang keluarga hari ini. Film tidak lagi sibuk menggambarkan keluarga sebagai ruang harmonis yang utuh, melainkan sebagai ruang yang penuh jarak emosional, kecanggungan, dan percakapan yang tertunda. Di titik itu, program screening Anatomi Satu Atap yang diadakan Komunitas Alinea x Nonton Barengan terasa bekerja bukan sekadar sebagai kumpulan film bertema keluarga, tetapi sebagai ruang untuk melihat bagaimana laki-laki sering tumbuh tanpa benar-benar memahami cara mengungkapkan perasaan mereka sendiri.

Tiga film yang diputar dalam program ini, yaitu Subuh karya Achmad Rezi Fahlevie, Cerita Langit karya Tarangga Widyadhana, dan Maragap Humbayang karya Muhammad Bakti Akbar, sama-sama berbicara tentang hubungan antar generasi laki-laki. Ada anak dan bapak, ada cucu dan kakek. Menariknya, ketiga film ini tidak dibangun melalui konflik besar yang meledak-ledak. Tidak ada pertengkaran dramatis atau tragedi yang dibuat berlebihan. Sebaliknya, film-film ini justru bergerak melalui hal-hal kecil yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan yang tak pernah dimulai, obrolan paket kiriman, hingga cerita-cerita lama yang tersimpan dalam ingatan keluarga.

image002.jpg

Subuh membuka program dengan hubungan ayah dan anak yang retak karena perbedaan keyakinan. Samuel memutuskan memeluk agama Islam, sementara ayahnya adalah seorang pendeta Kristen. Namun film karya Achmad Rezi Fahlevie ini tidak jatuh menjadi perdebatan ideologis. Konflik yang dihadirkan terasa personal dan manusiawi. Yang retak bukan hanya hubungan karena agama, tetapi juga ekspektasi seorang ayah terhadap anaknya. Dalam banyak keluarga Indonesia, ayah sering diposisikan sebagai figur otoritas moral. Ketika anak memilih jalan berbeda, yang terguncang bukan hanya keyakinan, tetapi juga identitas seorang ayah itu sendiri. Subuh menangkap ketegangan itu dengan cara yang tenang dan sunyi. Emosi ini justru tersampaikan meski tanpa adanya percakapan.

Setelah itu, Cerita Langit karya Tarangga Widyadhana menghadirkan hubungan bapak dan anak laki-laki yang terasa asing meski tinggal di rumah yang sama. Film ini terasa sangat dekat karena memahami kecanggungan sebagai sesuatu yang lekat dengan maskulinitas. Banyak laki-laki tumbuh tanpa benar-benar diajarkan bagaimana menunjukkan afeksi kepada ayahnya sendiri. Akibatnya, kedekatan hanya hidup sebagai kemungkinan yang tidak pernah diwujudkan sepenuhnya. Menariknya, film ini juga memperlihatkan bagaimana sang ayah ternyata memiliki kedekatan emosional dengan foto-foto langit yang ia simpan. Cerita Langit seperti ingin mengatakan bahwa kehangatan keluarga kadang tidak membutuhkan momen besar. Ia hanya membutuhkan keberanian kecil untuk mulai membuka diri, bahkan jika itu hanya dimulai dari membicarakan langit.

image004.jpg

Kemudian Maragap Humbayang karya Muhammad Bakti Akbar menjadi penutup yang paling reflektif. Film ini terasa seperti surat rindu yang terlambat dikirimkan. Relasi cucu dan kakek dihadirkan melalui ingatan, jarak, dan keinginan untuk pulang. Ada sesuatu yang menyentuh ketika film membicarakan sosok yang dulu aktif bercerita, tetapi kini tidak lagi mampu berbicara karena stroke. Seolah waktu perlahan mengambil bahasa dari tubuh manusia, sementara kenangan tetap tinggal di kepala orang-orang yang ditinggalkan. Film ini bukan hanya tentang kerinduan terhadap keluarga, tetapi juga tentang ketakutan kehilangan kesempatan untuk mendengar suara seseorang sekali lagi.

image006.jpg

Dalam sesi diskusi, akademisi sastra dan film Yustin Sartika, M.A. juga menyoroti sesuatu yang cukup menarik dari ketiga film tersebut, yaitu absennya sosok ibu. Ketiga film sama-sama menempatkan relasi laki-laki sebagai pusat cerita, baik antara ayah dan anak maupun cucu dan kakek. Ketidakhadiran ibu ini kemudian memunculkan pertanyaan yang cukup reflektif. Apakah absennya sosok ibu memang menjadi pemantik konflik dan cerita dalam relasi laki-laki, atau justru karena hubungan anak laki-laki dengan ibu dianggap tidak memiliki persoalan sebesar relasi mereka dengan ayah dan figur laki-laki lain dalam keluarga. Pertanyaan itu membuat program ini terasa semakin personal, sebab ia tidak hanya membicarakan hubungan keluarga, tetapi juga bagaimana struktur emosional dalam keluarga sering dibentuk secara berbeda berdasarkan gender.

Sebagai program screening, Anatomi Satu Atap terasa begitu intim karena kurasinya tidak hanya menyatukan tema keluarga, tetapi juga menyatukan bentuk-bentuk keheningan yang berbeda. Ketiga film sama-sama memperlihatkan bagaimana laki-laki sering hidup dalam budaya yang membuat mereka kesulitan membicarakan perasaan. Mereka tinggal serumah, tetapi tidak benar-benar saling mengenal. Mereka saling menyayangi, tetapi tidak memiliki bahasa untuk menunjukkannya.

Karena itu, pengalaman menonton program ini terasa seperti membuka kembali ruang-ruang percakapan yang selama ini tertunda di banyak keluarga Indonesia. Ada penonton yang mungkin teringat bapaknya sendiri. Ada yang teringat kakeknya. Ada juga yang mungkin menyadari bahwa selama ini mereka hidup sangat dekat dengan seseorang, tetapi tidak pernah benar-benar memahami dirinya.

Dan barangkali di situlah kekuatan utama Anatomi Satu Atap. Program ini tidak menawarkan solusi besar tentang keluarga. Ia hanya mengingatkan bahwa hubungan paling intim dalam hidup manusia sering kali dibangun dari percakapan kecil yang nyaris tidak pernah selesai.

 

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!
Alinea Film
Penulis
Alinea Film

Kontributor Alinea Film

Lihat semua tulisan →