Telaah

Aku, Dia, dan Kita: Dinamika Rumah Tangga Usia Senja dalam Wan An (2012)

Tarangga Widyadhana ·
Aku, Dia, dan Kita: Dinamika Rumah Tangga Usia Senja dalam Wan An (2012)

Wan An adalah film pendek karya Yandy Laurens yang dibuat sebagai tugas akhir kuliahnya. Meski berangkat dari ruang akademik, film ini justru menemukan tempatnya sendiri di ranah yang lebih luas, bahkan meraih Piala Citra untuk Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2012.

Jika Joko Anwar cenderung kerap meninggalkan pertanyaan dan teori yang bisa terus diperdebatkan penontonnya, maka Yandy sebaliknya. Ia meninggalkan rasa. Pendekatan semacam itu juga dapat kita rasakan dalam Wan An, yang dibangun dengan cara sederhana dan intim. Dialognya tidak bombastis, tetapi justru lewat gestur kecil dan keheningan, film ini mampu menghadirkan kehangatan yang terasa begitu dekat.

Film ini berfokus pada pasangan usia senja, Ing dan Tji, yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kematian. Setiap malam sebelum tidur, mereka memiliki ritual kecil, yakni saling mengucapkan Wan An , yang dalam bahasa Mandarin berarti selamat malam. Ucapan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan dua lapis makna. Di satu sisi, ia adalah bentuk syukur karena masih diberi waktu dan berhasil melewati hari bersama. Di sisi lain, ia juga menjadi pengakuan diam-diam atas kemungkinan terburuk: bahwa suatu pagi, salah satu dari mereka mungkin tidak akan bangun lagi.

Melalui ritual Wan An , Yandy sebenarnya sedang menunjukkan bentuk paling sederhana dari sebuah komitmen. Hubungan Ing dan Tji bukan lagi sekadar tentang dua orang yang hanya hidup bersama di bawah satu atap, tetapi tentang dua individu yang sudah saling benar-benar menyatu dalam keseharian mereka. Di usia senja, ego yang dulu mungkin sering berbenturan perlahan memudar, digantikan oleh perhatian-perhatian kecil yang begitu tulus. Ing dan Tji tidak lagi berada di fase aku dan dia yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan keduanya telah secara utuh berada pada fase kita yang kolektif dan saling menggenapi.

Dalam keseharian Ing dan Tji, terlihat bahwa menjadi kita tidak selalu membutuhkan deklarasi besar atau momen heroik yang kini sering dianggap sebagai standar hubungan di media sosial. Keintiman justru tumbuh dari hal-hal kecil yang mungkin kerap kita lupakan atau remehkan, bahkan dari rutinitas yang terus berulang setiap hari. Misalnya saat mereka mencuci pakaian bersama atau tetap saling mengucapkan selamat malam sebelum tidur meski sedang kesal satu sama lain. Hal-hal sederhana semacam itu seakan sengaja terus diperlihatkan oleh Yandy melalui adegan-adegan yang berulang, bahkan dengan komposisi shot yang identik. Lewat detail-detail kecil tersebut, Yandy membangun narasi tentang hubungan yang terasa sederhana, tetapi perlahan tumbuh kuat karena dijaga setiap hari.

Namun, keintiman yang begitu hangat dalam film ini terasa seperti anomali ketika dibenturkan dengan realitas sosial sekitar kita saat ini. Lantaran, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka perceraian di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan, dengan total 438.168 kasus perceraian sepanjang tahun 2025. Fakta lapangan ini menciptakan kontras yang tajam sekaligus ironi. Di satu sisi, kita melihat Ing dan Tji yang berjuang mempertahankan sisa waktu mereka bersama, sementara di sisi lain, ribuan janji suci justru berakhir di meja hijau.

Data yang sama juga menunjukkan bahwa faktor perceraian paling dominan pada tahun 2025 adalah karena salah satu pihak meninggalkan pasangannya. Hal ini seolah memperlihatkan bahwa ego masih menjadi batas yang sulit dipertemukan. Ketika konflik datang, berpisah terasa seperti jalan keluar yang paling praktis. Tentu, tidak semua perpisahan bisa dianggap salah. Dalam beberapa hubungan yang memang sudah tidak sehat atau toksik, berpisah mungkin justru menjadi keputusan yang paling menyelamatkan. Namun, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan lainnya: apakah sebagian masalah dalam hubungan sebenarnya sudah berakar sejak awal, atau jangan-jangan, banyak orang sebenarnya hanya menyukai "ide" tentang pernikahan sebagai sebuah perayaan, tanpa benar-benar siap pada esensinya?

Hal tersebut kemudian membawa pada sebuah perenungan personal yang cukup mengusik, terlebih ketika melihat fenomena pernikahan yang dimulai hanya karena dorongan sosial, tuntutan usia, atau keinginan untuk mencapai gambaran hidup ideal yang terlihat berhasil di mata sosial. Padahal, hidup bersama seseorang pada akhirnya bukan hanya soal luapan rasa suka atau momen romantis yang bisa dipamerkan, melainkan tentang kesiapan untuk berkompromi, kemauan untuk saling mendengarkan, dan ketangguhan untuk tetap tinggal saat fase hubungan terasa membosankan atau hambar.

Di titik inilah, Wan An terasa begitu menyentuh dan relevan. Film ini tidak menawarkan gambaran hubungan yang cela atau adem ayem. Ing dan Tji tetap digambarkan sebagai manusia biasa yang bisa bertengkar, saling kesal, dan hidup dalam ketakutan yang manusiawi akan kehilangan. Namun, di tengah semua itu, mereka tetap memilih untuk bersama. Mereka menjaga satu sama lain lewat ritual-ritual kecil yang mungkin terlihat sepele, namun dengan cara itulah dinamika hubungan keduanya begitu hangat dan tidak jarang juga gemas.

Pada akhirnya, melalui hubungan Ing dan Tji, film ini seperti mengingatkan bahwa level cinta yang paling dewasa mungkin bukan terletak pada seberapa megah ia dideklarasikan di awal, melainkan pada seberapa tekun ia dirawat setiap harinya. Wan An juga terasa seperti pengingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua orang dalam satu momen sakral, tetapi tentang bagaimana keduanya terus belajar di tengah waktu yang terus berjalan.

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!

Dari Rubrik yang Sama