Telaah

Haxan 1922: Ketika Ketidaktahuan dan Ketakutan Menjadi Sebuah Keyakinan

Haxan 1922: Ketika Ketidaktahuan dan Ketakutan Menjadi Sebuah Keyakinan

Häxan merupakan film horor eksperimental tanpa dialog yang mengeksplorasi sejarah sihir serta dampaknya terhadap masyarakat. Film ini menggabungkan bentuk dokumenter dengan dramatisasi visual dan disutradarai oleh Benjamin Christensen.

Kalian tahu tidak? Dalam sejarah manusia, sosok yang dikenal sebagai penyihir mungkin sebenarnya bukanlah sosok yang benar-benar ada. Ia lebih merupakan figur yang tercipta dari pertemuan antara ketidaktahuan dan ketakutan manusia yang terus menyebar. Semakin banyak orang mempercayai dua hal tersebut, semakin nyata pula sosok itu hadir dalam kehidupan sosial.

Di sinilah Häxan hadir. Bukan sekadar film horor, melainkan cermin dari sisi gelap manusia pada abad pertengahan, dan mungkin masih tersisa hingga hari ini. Christensen menyajikan film ini seolah-olah sebuah dokumenter tentang sejarah sihir dan perburuan penyihir di Eropa. Tanpa dialog dan tanpa suara narator yang menjelaskan, film ini membiarkan rangkaian gambarnya berbicara sendiri.

Aneh? Membosankan? Mungkin sebagian dari kalian akan berpikir demikian. Namun jika dilihat lebih dalam, film ini justru menawarkan sesuatu yang mungkin selama ini sebenarnya ada di sekitar kita. Bukan tentang penyihir, melainkan tentang bagaimana manusia menciptakan ketakutannya sendiri.

Christensen tidak menggambarkan penyihir sebagai monster yang menakutkan. Sebaliknya, mereka hadir sebagai manusia biasa: perempuan miskin, lansia, atau mereka yang dianggap terlalu berbeda. Dengan kata lain, mereka lebih tampak sebagai korban daripada pelaku kejahatan.

Adegan-adegan penyiksaan yang ditampilkan terasa sangat kejam, terutama karena kita tahu bahwa kekerasan tersebut berakar pada keyakinan yang keliru. Visual iblis yang menjilat tangan perempuan atau memimpin tarian sabbat bukanlah perayaan okultisme, melainkan personifikasi dari imajinasi kolektif yang telah terinfeksi paranoia.

Melalui film ini, Christensen seakan ingin mengatakan bahwa sosok yang disebut “penyihir” sebenarnya tidak pernah benar-benar ada, sampai masyarakat menciptakannya. Ketidaktahuan terhadap penyakit mental dianggap sebagai kerasukan. Ketidaktahuan terhadap sains dianggap sebagai kutukan. Ketakutan terhadap perempuan yang tidak patuh terhadap aturan sosial membuat mereka dituduh bersekutu dengan iblis.

Seiring waktu, konsep “penyihir” pun mengalami perubahan. Ia tidak lagi selalu dipahami sebagai sosok jahat yang benar-benar ada, melainkan sebagai figur yang selalu dibutuhkan manusia ketika menghadapi sesuatu yang tidak mereka pahami. Pada abad pertengahan, manusia belum memiliki bahasa ilmiah untuk menjelaskan wabah, kegilaan, atau penyakit misterius.

Karena itu, mereka menciptakan satu jawaban yang sederhana sekaligus menenangkan: penyihir. Sosok ini menjadi penjelasan cepat bagi berbagai peristiwa yang terasa tidak masuk akal.

Ironisnya, yang paling mengerikan dari Häxan bukanlah kekejaman yang ditampilkan, melainkan sikap orang-orang di dalamnya. Mereka benar-benar percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar. Tidak ada dari mereka yang merasa sedang melakukan kekerasan. Dalam pikiran mereka, mereka bukan iblis, melainkan penyelamat.

Pada akhirnya, film ini meninggalkan satu kesadaran yang tidak nyaman: manusia mampu menciptakan iblisnya sendiri ketika kenyataan terasa terlalu rumit untuk dipahami. Ketika tidak ada jawaban, kita menciptakan satu. Dan sering kali, jawaban itu berbentuk seseorang yang harus disalahkan.

 

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!

Dari Rubrik yang Sama

Pertiwi Bebas? Perlawanan Perempuan dan Utopia Supranatural dalam Empat Musim Pertiwi
Telaah

Pertiwi Bebas? Perlawanan Perempuan dan Utopia Supranatural dalam Empat Musim Pertiwi

Empat Musim Pertiwi (2026), film karya Kamila Andini yang dibintangi Putri Marino, menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang menarik perhatian internasional. Film ini menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Film berkisah mengikuti Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama dua puluh tah...

Muhammad Rizal 17 Oct 2026
KKN di Desa Penari (2022): Seksualitas Badarawuhi dan Kuasa Perempuan
Telaah

KKN di Desa Penari (2022): Seksualitas Badarawuhi dan Kuasa Perempuan

The monstrous-feminine is constructed as an abject. - Barbara Creed, The Monstrous-Feminine (1993) Film horor Indonesia memiliki hubungan yang cukup panjang dengan sosok perempuan sebagai sumber ketakutan. Perempuan kerap hadir sebagai hantu, makhluk gaib, atau figur misterius yang memadukan kecantikan dengan ancaman. Tubuh dan seksualitas pun sering menjadi bagian dari konstruksi tersebut. Perempuan ditampilkan sensual ...

Muhammad Rizal 5 Sep 2026