Telaah

Panggil Aku Ayah: Keluarga, Komoditas, dan Negosiasi Keayahan

Muhammad Rizal ·
Panggil Aku Ayah: Keluarga, Komoditas, dan Negosiasi Keayahan

 “All happy families are alike; each unhappy family is unhappy in its own way.”

- Leo Tolstoy, Anna Karenina

Keluarga barangkali adalah sesuatu yang mudah dikenali sekaligus sulit didefinisikan. Kita terbiasa mengenalnya melalui hubungan darah, perkawinan, nama keluarga, atau pembagian peran yang dianggap sudah semestinya: ayah, ibu, dan anak. Akan tetapi, bagaimana jika hubungan-hubungan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya? Bagaimana jika ayah biologis justru menjadi sumber persoalan, ibu berusaha bertahan tetapi terus kehilangan ruang untuk menjadi ibu, sementara seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah perlahan menempati posisi sebagai ayah? Lebih jauh lagi, siapa yang sebenarnya berhak menentukan kepada siapa seorang anak memberikan kasih sayang dan pengakuan?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Panggil Aku Ayah (2025) arahan Benni Setiawan, adaptasi Indonesia dari Pawn (2020), film Korea Selatan karya Kang Dae-gyu. Premis dasarnya dipertahankan, dua penagih utang berhadapan dengan seorang anak yang terseret ke dalam persoalan utang, lalu hubungan yang mula-mula dibangun dari transaksi berubah menjadi hubungan pengasuhan. Dalam Panggil Aku Ayah, Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir) mengambil Intan sebagai jaminan atas utang keluarganya. Dari sana, film bergerak ke persoalan yang lebih besar daripada utang itu sendiri, bagaimana seorang anak berpindah dari satu relasi ke relasi lain, bagaimana orang-orang dewasa merasa memiliki hak untuk menentukan hidupnya, dan bagaimana pada akhirnya Intan justru memperoleh satu hak yang tidak dapat diambil dari dirinya: memilih siapa yang ia anggap sebagai ayah.

Sebagai adaptasi, Panggil Aku Ayah tidak perlu dibandingkan dengan Pawn secara panjang lebar. Yang menjadi perhatian justru bagaimana premis tersebut bekerja dalam konteks Indonesia, ketika kemiskinan, utang, migrasi kerja, dan kerentanan perempuan bertemu dalam kehidupan sebuah keluarga. Jika Pawn terutama menjadi titik berangkat tentang terbentuknya hubungan keluarga yang tidak direncanakan, Panggil Aku Ayah membuat persoalan itu bersinggungan dengan pertanyaan yang lebih material: apa yang terjadi ketika seorang anak ikut terseret ke dalam urusan ekonomi orang dewasa?

Keluarga dalam film ini dengan demikian bukan ruang yang sejak awal menyediakan perlindungan. Keluarga justru menjadi tempat dari mana sebagian persoalan bermula. Karena itu, sebelum bertanya apakah Dedi, seorang debt collector, layak menjadi ayah, mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu: siapa yang sebenarnya berhak memiliki seorang anak?

Anak Jaminan

Intan pertama-tama hadir bukan sebagai anak yang menentukan dirinya sendiri, melainkan sebagai jaminan. Ia tidak memilih untuk ikut Dedi dan Tatang. Ia diambil. Utang yang ditinggalkan ayahnya kemudian menjalar ke tubuh anak yang bahkan tidak mengetahui bagaimana utang itu terbentuk. Dalam satu pergeseran yang terasa kejam, persoalan finansial orang dewasa diterjemahkan menjadi persoalan atas tubuh seorang anak. Intan bukan pihak yang berutang, tetapi tubuh fisiknya yang digunakan untuk membayar utang.

Jika dibaca melalui kerangka Viviana Zelizer dalam Pricing the Priceless Child (1985), anak dalam masyarakat modern semestinya dipandang sebagai sosok yang memiliki nilai emosional dan tidak dapat disamakan dengan nilai ekonomi. Kerangka ini membantu melihat bagaimana Panggil Aku Ayah justru memperlihatkan pembalikan dari pandangan tersebut. Intan, yang seharusnya berada di luar narasi pertukaran ekonomi, alih-alih ditempatkan sebagai jaminan atas utang keluarganya. Tubuh dan keberadaannya diperlakukan seolah-olah dapat menggantikan nilai uang.

Persoalannya, menyebut Intan sebagai komoditas bukan berarti mengatakan bahwa film menggambarkan anak sebagai barang dagangan secara sederhana. Yang lebih signifikan adalah bagaimana nilai seorang anak diterjemahkan ke dalam kepentingan orang dewasa. Intan memiliki nilai karena ia dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan utang.

Relasi tersebut tidak berhenti pada pengambilan Intan. Ia kemudian sempat dibawa masuk ke dalam pekerjaan penagihan utang. Ia diminta berakting sebagai anak yang menderita agar orang yang memiliki utang merasa takut. Penderitaan Intan dengan demikian berubah menjadi alat kerja. Apa yang dialaminya dapat dipentaskan, diperlihatkan, dan digunakan untuk menghasilkan sesuatu: pembayaran utang.

Ketika kemudian pamannya hendak menjual Intan, logika tersebut mencapai realitas yang lebih memprihatinkan. Intan bukan sekadar korban dari persoalan ekonomi, tetapi telah ditempatkan di dalam mekanisme ekonomi itu sendiri. Ia menjadi sesuatu yang dapat dipindahkan, dijadikan jaminan, bahkan berpotensi diperjualbelikan. Yang berpindah bukan hanya tubuh seorang anak, melainkan juga hak orang dewasa untuk menentukan ke mana tubuh itu pergi dan apa yang harus dilakukannya.

Persoalan tersebut terasa semakin mengganggu karena Intan adalah anak perempuan di bawah umur. Tubuh perempuan sejak awal memang kerap berhadapan dengan logika ekonomi yang menjadikannya bernilai ketika dapat digunakan atau dipertukarkan. Dalam kasus Intan, narasi itu bekerja bahkan ketika ia masih seorang anak. Film memperlihatkan dunia yang begitu mudah menempatkan tubuh anak perempuan ke dalam urusan yang sama sekali bukan pilihannya.

Sebenarnya, film ini tidak berhenti pada persoalan kemiskinan. Kemiskinan memang menciptakan kondisi material yang membuat Intan rentan, tetapi tidak dengan sendirinya menjadikan seorang anak sebagai komoditas. Di dalamnya terdapat keputusan orang dewasa, relasi kuasa, serta anggapan bahwa seseorang berhak menentukan kehidupan seorang anak.

Dedi sendiri hidup dalam kondisi yang tidak jauh dari kemiskinan. Ia bekerja sebagai penagih utang dan pada awalnya ikut menjadikan Intan sebagai bagian dari urusan ekonomi. Namun, ia tidak berhenti pada logika tersebut. Hubungannya dengan Intan kemudian bergerak ke arah yang berbeda. Karena itu, film tidak sepenuhnya mengatakan bahwa kemiskinan adalah penyebab tunggal eksploitasi. Ia lebih tepat memperlihatkan bagaimana kemiskinan menyediakan kondisi yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh relasi kuasa orang dewasa.

Dari Jaminan Menjadi Anak

Dedi dan Tatang tidak memasuki kehidupan Intan sebagai orang tua. Mereka adalah debt collector yang datang karena urusan uang. Karena itu, hubungan mereka dengan Intan sejak awal memiliki dasar yang problematis. Intan menjadi jaminan bukan karena mereka menyayanginya, melainkan karena mereka membutuhkan sesuatu yang dapat menggantikan uang yang tidak terbayarkan.

Perubahan mulai terjadi ketika kehadiran Intan tidak lagi berhenti pada kepentingan ekonomi. Dedi mulai merawatnya, memperhatikannya, dan membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari bahkan menyekolahkannya. Tatang pun pada akhirnya menyadari bahwa Intan tidak seharusnya terus berada dalam dunia kerja orang dewasa. Keputusan untuk menyekolahkannya menjadi penting karena menandai perubahan cara mereka memandang anak tersebut. Intan tidak lagi dinilai dari kegunaannya bagi pekerjaan, melainkan dari kebutuhan dan masa depannya sebagai seorang anak.

Dalam narasi modern family, Giddens (1992) menyebut hubungan intim tidak lagi hanya ditentukan oleh peran yang telah diberikan sebelumnya, seperti hubungan darah, perkawinan, atau status sebagai orang tua. Hubungan tersebut dibentuk dan dipertahankan melalui interaksi, kepercayaan, komitmen, serta negosiasi di antara orang-orang yang terlibat. Gagasan ini membantu menjelaskan mengapa keayahan Dedi tidak muncul sebagai status yang sudah tersedia begitu saja, melainkan sebagai sesuatu yang perlahan muncul dan diusahakan.

Dedi menjadi ayah bukan karena ia tiba-tiba memperoleh hubungan biologis dengan Intan. Ia menjadi ayah melalui pekerjaan sehari-hari, merawat, melindungi, hadir, dan bertanggung jawab. Dengan kata lain, keayahan dalam film ini lebih dekat dengan praktik daripada status.

Film Like Father, Like Son (2013) karya Hirokazu Kore-eda, misalnya, memperlihatkan bagaimana hubungan darah tidak selalu menjadi dasar yang cukup untuk menentukan siapa orang tua. Film ini bercerita tentang dua keluarga yang mengetahui bahwa anak mereka tertukar sejak lahir. Dari situ, hubungan antara ayah dan anak mulai dipertanyakan: apakah menjadi ayah ditentukan oleh ikatan biologis, atau oleh pengalaman hidup bersama dan merawat? Pertanyaan yang serupa juga muncul dalam Panggil Aku Ayah, meskipun melalui situasi yang berbeda. Tetapi intinya, kedua film tersebut sama-sama menunjukkan bahwa menjadi ayah tidak selesai pada persoalan darah. Hubungan itu harus dijalani.

Meski demikian, Dedi tidak sepenuhnya tepat jika hanya diposisikan sebagai penyelamat. Memang ia membantu mengeluarkan Intan dari sejumlah situasi berbahaya, tetapi hubungan itu bekerja dua arah. Kehadiran Intan juga mengubah Dedi. Laki-laki yang hidup dari pekerjaan penagihan utang perlahan mendapatkan pengalaman yang sebelumnya tidak ia miliki, merawat seseorang tanpa menghitung apa yang akan ia dapatkan sebagai balasan.

Ada ironi di sini. Dedi datang ke kehidupan Intan melalui utang, tetapi justru Intan yang kemudian membuatnya mengenal relasi yang tidak dapat dihitung dengan logika utang-piutang. Semakin lama mereka bersama, semakin sulit hubungan tersebut dipahami sebagai hubungan antara penagih dan jaminan. Dedi menjadi ayah, sementara Intan tidak lagi menjadi barang yang dipegangnya.

Tetapi perubahan itu tidak membuat sejarah hubungan mereka hilang. Justru karena hubungan mereka berangkat dari transaksi, proses menjadi keluarga terasa lebih berarti. Dedi tidak sejak awal memiliki naluri keayahan yang sempurna. Ia belajar menjadi ayah melalui Intan.

Menyempitnya Ruang Keibuan

Kalau Dedi memperoleh ruang untuk tumbuh menjadi ayah, perjalanan Rossa justru bergerak ke arah yang berlawanan. Rossa adalah ibu biologis Intan. Ia bukan perempuan yang dengan mudah menyerahkan anaknya. Sejak awal, ia berhadapan dengan persoalan yang ditinggalkan suaminya, termasuk utang yang membuat keluarganya berada dalam posisi rentan. Ketika Intan diambil, Rossa tidak sedang membuat keputusan bebas untuk kehilangan anak.

Setelah itu, Rossa berusaha mencari penghidupan sebagai TKI. Namun pekerjaan yang seharusnya menjadi jalan keluar justru membawanya ke relasi kuasa lain ketika ia kembali menjadi pihak yang ditahan oleh majikannya. Upaya untuk mempertahankan hidup dengan bekerja tidak otomatis memberinya kebebasan. Ia tetap berada dalam struktur yang membuat pilihan-pilihannya sempit.

Oleh karena itu, membaca Rossa hanya sebagai ibu yang meninggalkan anak terasa tidak adil. Ia memang pergi, tetapi ia juga berulang kali berusaha mencari jalan keluar. Masalahnya bukan ketiadaan agensi, melainkan dunia di sekelilingnya yang terus menggagalkan agensi tersebut. Ia mengambil keputusan, tetapi tidak pernah memiliki cukup kuasa atas akibat dari keputusan itu.

Perbedaan perjalanan Rossa dan Dedi ini menjadi penting. Dedi bukan orang berkecukupan. Ia bekerja sebagai debt collector dan mengambil keputusan yang pada awalnya merugikan Intan. Seiring cerita berjalan, film memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesalahan tidak menjadi akhir dari perjalanan Dedi. Ia masih diberi ruang untuk berubah, belajar, dan akhirnya memperoleh tempat sebagai ayah.

Rossa tidak mendapatkan ruang itu. Ia sudah berusaha bertahan, tetapi dunia terus membuatnya kehilangan sesuatu. Bahkan ketika akhirnya ia kembali berhadapan dengan Intan, ia tidak muncul sebagai seorang ibu yang merebut kembali anaknya. Ia justru merasa inferior dan seperti tidak ingin mengganggu kehidupan anak yang selama ini telah bahagia bersama Dedi.

Di bagian ini, Panggil Aku Ayah menghadirkan persoalan gender yang tidak sesederhana laki-laki sebagai penyelamat dan perempuan sebagai korban. Yang lebih problematis adalah ketimpangan kesempatan untuk berubah. Dedi, meski miskin dan pernah bertindak salah, diberi kesempatan untuk membangun kembali dirinya melalui hubungan dengan seorang anak. Rossa, meski berusaha bertahan, justru semakin kehilangan ruang untuk menjadi ibu.

Dunia film di sini, dengan demikian seolah lebih murah hati kepada laki-laki yang ingin memperbaiki diri daripada kepada perempuan yang sedang berusaha bertahan hidup mempertahankan keluarganya.

Anak Menjadi Subjek

Intan tidak selamanya berada pada posisi yang sama. Di sepanjang cerita, keputusan tentang hidupnya memang lebih sering datang dari orang dewasa. Ia dijadikan jaminan, dibawa pergi, hendak dijual, bahkan pernah digunakan dalam pekerjaan penagihan utang. Orang lain berkali-kali menentukan hidupnya sebelum ia sempat menentukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Justru karena itu, pilihan Intan mengenai siapa yang ia sayangi menjadi penting. Film tidak memberinya kuasa penuh atas kondisi hidupnya, tetapi memberikan kepadanya bentuk agensi yang sangat personal, hak untuk menentukan relasi afektifnya sendiri.

Intan tidak bisa memilih siapa ayah biologisnya. Ia tidak bisa memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Ia tidak bisa menentukan apakah tubuhnya akan dijadikan jaminan atau apakah orang dewasa akan memindahkannya dari satu tangan ke tangan lain. Seiring karakter Intan berkembang, ada satu keputusan yang pada akhirnya dapat ia ambil sendiri ketika dewasa, yaitu siapa yang ia anggap sebagai ayahnya.

Dari sini bisa dilihat, posisi Intan mengalami perubahan. Ia yang sejak awal menjadi objek transaksi perlahan menjadi subjek pilihan. Orang-orang dewasa boleh menentukan ke mana ia dibawa, tetapi mereka tidak sepenuhnya dapat menentukan kepada siapa ia memberikan kasih sayangnya.

Perubahan ini penting karena mencegah Panggil Aku Ayah berhenti sebagai cerita tentang anak yang diselamatkan laki-laki dewasa. Intan memang mendapatkan perlindungan, tetapi ia juga memiliki suara dalam menentukan makna hubungan tersebut. Ia bukan sekadar penerima pengasuhan. Ia adalah pihak yang pada akhirnya memberikan pengakuan.

Siapa yang Berhak Menjadi Ayah?

Pertanyaan tentang ayah kemudian menjadi lebih rumit ketika film mempertemukan beberapa bentuk hubungan sekaligus. Ada ayah biologis yang meninggalkan utang. Ada ibu biologis yang harus terus berjuang hingga kehilangan kedekatan dengan anak. Ada paman yang memiliki hubungan keluarga tetapi justru hendak mengeksploitasi Intan. Ada Dedi yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, tetapi menghabiskan bertahun-tahun untuk merawatnya.

Hubungan-hubungan itu memperlihatkan bahwa hubungan darah tidak selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab. Seseorang dapat memiliki hubungan biologis dengan anak tetapi tidak hadir sebagai pelindung. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki hubungan darah dapat menjalankan hampir seluruh pekerjaan yang kita bayangkan sebagai pekerjaan seorang ayah.

Di sisi lain, ada sesuatu yang juga penting daripada keduanya, yaitu pengakuan dari anak.

Seorang laki-laki dapat menyebut dirinya ayah. Ia dapat merawat, memberi makan, menyekolahkan, dan melindungi seorang anak. Tetapi semua itu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan apakah ia benar-benar menjadi ayah bagi anak tersebut. Ada hubungan dua arah yang harus dibangun. Dedi dapat menjalankan fatherhood, tetapi Intan juga memiliki hak untuk mengakui atau tidak mengakuinya.

Karena itu, kata “panggil” dalam judul film menjadi sesuatu yang krusial. Panggil Aku Ayah bukan hanya deklarasi seorang laki-laki. Ia juga merupakan permintaan untuk diakui. Dedi tidak dapat sepenuhnya mengklaim posisi sebagai ayah tanpa suara Intan yang mengatakan demikian.

Dari penjelasan tersebut, keayahan menjadi sesuatu yang dinegosiasikan. Dedi menjalankan peran sebagai ayah melalui pengasuhan, tetapi pengasuhan tersebut tetap membutuhkan pengakuan dari anak. Ia dapat melakukan semua hal yang dilakukan seorang ayah, tetapi ia tidak dapat memaksa Intan menyebutnya ayah. Orang dewasa berkali-kali merasa berhak memiliki Intan, tetapi pada akhirnya justru Intan yang memiliki hak menentukan siapa yang ia anggap sebagai ayah.

Melampaui Ikatan Darah

Sebagai adaptasi dari Pawn, Panggil Aku Ayah membawa gagasan bahwa keluarga dapat lahir dari hubungan yang tidak direncanakan. Film ini tidak cukup hanya mengatakan bahwa keluarga tidak harus sedarah. Ia juga menunjukkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu dapat ditentukan dari satu arah, terutama ketika yang dibicarakan adalah seorang anak.

Intan sempat menjadi jaminan utang, objek transaksi, bahkan alat dalam pekerjaan orang dewasa. Pengalaman tersebut tidak sepenuhnya menghapus kapasitasnya untuk menentukan hubungan yang paling personal baginya. Ia tidak dapat memilih kondisi tempat ia tumbuh, tetapi ia dapat memilih siapa yang diberi tempat sebagai ayahnya.

Di sini, gagasan tentang keluarga berubah arah. Keluarga bukan hanya soal siapa yang memiliki hubungan biologis dengan kita, tetapi juga tentang siapa yang hadir, merawat, dan membangun kehidupan bersama kita. Bahkan pengasuhan saja belum cukup. Relasi itu membutuhkan pengakuan dari pihak yang diasuh.

Maka, mungkin persoalan utama Panggil Aku Ayah sebenarnya bukan tentang apakah Dedi dapat menjadi ayah bagi Intan. Jawaban untuk itu perlahan sudah diberikan film melalui seluruh perjalanan mereka. Persoalannya adalah siapa yang berhak menentukan siapa ayah itu.

Sepanjang hidupnya, Intan berkali-kali berada dalam situasi ketika orang lain merasa berhak menentukan nasibnya. Utang ayahnya menentukan ke mana ia pergi. Keputusan orang dewasa menentukan siapa yang membawanya. Kepentingan ekonomi menentukan bagaimana ia diperlakukan. Tetapi pada akhirnya, film menyisakan satu keputusan yang tidak diberikan kepada siapa pun selain dirinya, kepada siapa ia akan memberikan kasih sayang dan kepada siapa ia akan berkata, “Ayah.”

Atas dasar itu, Panggil Aku Ayah bukan hanya cerita tentang seorang debt collector yang berubah menjadi ayah. Ia juga merupakan cerita tentang seorang anak yang perlahan mendapatkan kembali hak untuk menentukan keluarganya sendiri. Ia pernah menjadi jaminan bagi utang orang dewasa, tetapi tidak pernah harus menjadikan kasih sayangnya sebagai jaminan bagi siapa pun.

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!
Muhammad Rizal
Penulis
Muhammad Rizal

Film and Literature Studies

Lihat semua tulisan →

Dari Rubrik yang Sama

Pertiwi Bebas? Perlawanan Perempuan dan Utopia Supranatural dalam Empat Musim Pertiwi
Telaah

Pertiwi Bebas? Perlawanan Perempuan dan Utopia Supranatural dalam Empat Musim Pertiwi

Empat Musim Pertiwi (2026), film karya Kamila Andini yang dibintangi Putri Marino, menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang menarik perhatian internasional. Film ini menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Film berkisah mengikuti Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama dua puluh tah...

Muhammad Rizal 17 Oct 2026
KKN di Desa Penari (2022): Seksualitas Badarawuhi dan Kuasa Perempuan
Telaah

KKN di Desa Penari (2022): Seksualitas Badarawuhi dan Kuasa Perempuan

The monstrous-feminine is constructed as an abject. - Barbara Creed, The Monstrous-Feminine (1993) Film horor Indonesia memiliki hubungan yang cukup panjang dengan sosok perempuan sebagai sumber ketakutan. Perempuan kerap hadir sebagai hantu, makhluk gaib, atau figur misterius yang memadukan kecantikan dengan ancaman. Tubuh dan seksualitas pun sering menjadi bagian dari konstruksi tersebut. Perempuan ditampilkan sensual ...

Muhammad Rizal 5 Sep 2026