Hoppers, film animasi terbaru Pixar, mengusung tema yang cukup unik. Di awal, kita diperkenalkan dengan Mabel, seorang anak yang sudah menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia hewan. Ketika menginjak bangku perkuliahan, Mabel berkembang menjadi seorang aktivis lingkungan yang dengan keras menentang proyek pembangunan jalan raya oleh sang walikota. Proyek tersebut dinilai akan menggusur kawasan ekosistem rawa-rawa yang penuh dengan kenangan masa kecil Mabel bersama neneknya. Di balik pembangunan jalan raya tersebut, ada sekelompok makhluk yang keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada rawa-rawa. Penonton kemudian diajak berpetualang bersama Mabel yang “merasuki” robot berang-berang ciptaan dosennya untuk menggerakkan hewan-hewan yang tergusur agar merebut kembali kawasan mereka.
Awalnya, saya mengira ini cuma film lucu-lucuan biasa yang menjual karakter berang-berang gemoy dan gendut. Namun ternyata, semakin dalam Mabel masuk ke ekosistem para hewan dalam wujud berang-berangnya, semakin kelam juga atmosfer yang ditunjukkan. Berawal dari ketakutan, cerita perlahan bertransisi menjadi keganasan yang muncul akibat rasa dendam dari para hewan. Perubahan ini sukses membuat mood saya berbalik 180 derajat. Visual gelap yang ditampilkan Pixar seakan memaksa kita untuk ikut menjadi bagian dari para hewan yang menjadi korban penggusuran proyek raksasa tersebut.
Ada pikiran yang mendadak muncul dalam benak saya ketika merenung di toilet selama beberapa saat setelah menonton film ini. Rasanya ada sebuah ironi yang menghampiri hati saya, apakah kita harus menjadi hewan dulu agar benih-benih empati baru bisa muncul? Kenapa saya yang sudah besar dan rajin bayar pajak (dari jajan di supermarket) ini malah jadi merasa bersalah ketika berada di pihak pengguna jalan raya? Kita tidak pernah tahu kisah atau drama ekologis apa yang terjadi sebelum pembangunan jalan raya yang sehari-hari kita gunakan. Saya mendadak takut kalau ternyata jalan yang saya gunakan setiap hari untuk perjalanan ke kampus, awalnya adalah sarang hewan-hewan lucu yang terpaksa digusur demi terbentangnya jalan aspal untuk jalur berangkat kuliah saya (belum lagi ada rumor yang mengatakan bahwa dulu kampus saya dulunya adalah rawa-rawa).
Perasaan bersalah pun menyelimuti hati saya, justru ketika saya mengira bahwa sudah menjadi pribadi yang cukup baik dalam menjalani kehidupan sebagai manusia. Ternyata dari uang pajak yang saya bayarkan, ada golongan makhluk hidup yang terzalimi di sisi lain. Betapa berat rasa bersalah yang harus saya pikul ketika menyadari hal itu.
Menariknya, setelah selesai menonton, saya baru menyadari bahwa dampak kerusakan yang dihasilkan oleh manusia terhadap para hewan ternyata sudah ada dan bahkan sangat dekat dengan tempat tinggal saya sendiri. Di desa, di belakang rumah saya, terdapat sungai hulu yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Sungai ini merupakan ekosistem tempat tinggal para berang-berang liar. Namun anehnya, mereka hanya keluar pada malam hari. Saya kira berang berang adalah hewan yang beraktifitas di siang hari seperti yang ditunjukkan di film, namun setelah saya cari tahu lebih lanjut, ternyata berang-berang memang termasuk hewan nokturnal yang lebih aktif di dalam kegelapan.
Tapi tidak jauh dari sana, ada satu fenomena aneh lagi yang pernah saya temui, yaitu pada wilayah perbukitan dekat rumah yang menjadi ekosistem bagi para kidang (kijang). Jumlah mereka kini sudah sangat sedikit dan menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Kidang yang biasanya aktif keluar pada jam-jam pagi dan senja, di kawasan ini justru hanya berani menampakkan diri saat malam hari. Kuat dugaan bahwa fenomena tersebut terjadi sebagai bentuk adaptasi dari para kidang untuk berlindung dari para pemburu. Pada siang hari, kemunculan kidang tentu akan menjadi sangat mencolok dan mengundang perhatian warga sekitar yang mungkin belum mendapat edukasi perihal hewan yang dilindungi, sehingga ada risiko habitat mereka akan diganggu. Kenapa saya yang jarang berpetualang di bukit ini bisa tahu detail tersebut? Sederhana saja, karena saya mendapat cerita langsung dari seorang pemburu kidang melalui kenalan saya.
Lalu, apa sebetulnya inti dari tulisan ini? Bahwa dampak kerusakan yang dihasilkan oleh ego manusia itu nyata adanya, dari rawa-rawa fiktif di film Pixar hingga bukit di dekat rumah saya sendiri. Film Hoppers pada akhirnya mampu mengantarkan pesan moral dengan tepat hingga mengetuk pintu hati saya. Meskipun begitu, film ini jujur saja belum cukup kuat untuk membuat saya mendadak termotivasi menjadi aktivis lingkungan sekeras Mabel, hehehe… mungkin belum. Namun untuk saat ini, minimal saya tahu bahwa jalan aspal yang saya lewati dan uang pajak yang saya bayar, punya cerita lain dan mungkin di balik itu ada suara suara mahluk kecil (hewan-hewan) yang juga berhak untuk dibela dan disuarakan.