Empat Musim Pertiwi (2026), film karya Kamila Andini yang dibintangi Putri Marino, menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang menarik perhatian internasional. Film ini menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Film berkisah mengikuti Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama dua puluh tahun karena membunuh seorang laki-laki ketika membela diri dari kekerasan seksual. Namun, kepulangannya tidak disambut dengan penerimaan. Ia justru menghadapi stigma masyarakat, penolakan, dan masa lalu yang belum selesai.
Perjalanan Pertiwi membawa film ini melampaui kisah pemulihan trauma. Bersama perempuan dan kelompok marginal lainnya, ia berusaha melawan tatanan yang membatasi kehidupannya. Namun, ketika perlawanan berujung pada pembalasan melalui energi supranatural dan kemungkinan pembebasan melalui UFO, muncul pertanyaan, apakah Pertiwi benar-benar bebas, ataukah kebebasan perempuan hanya mungkin dibayangkan di luar realitas sosial? Melalui pemikiran Luce Irigaray, perjalanan Pertiwi dapat dibaca sebagai pergulatan perempuan untuk menjadi subjek atas kehidupannya sendiri sekaligus kritik terhadap sistem yang menjadikan maskulinitas sebagai ukuran kekuasaan.
Kamila Andini dan Perempuan sebagai Subjek
Membicarakan Empat Musim Pertiwi tidak dapat dilepaskan dari posisi Kamila Andini sebagai sutradara perempuan. Identitas tersebut memang tidak otomatis menjadikan sebuah film feminis. Akan tetapi, menarik untuk melihat bagaimana Kamila memberi ruang bagi pengalaman perempuan, termasuk kemarahan, ketakutan, trauma, dan keinginan untuk melawan, tanpa selalu menempatkan mereka sebagai korban yang pasif.
Luce Irigaray mengkritik tatanan pemikiran yang menjadikan laki-laki sebagai ukuran universal. Dalam tatanan maskulin, perempuan kerap didefinisikan melalui hubungannya dengan laki-laki: sebagai istri, kekasih, korban, atau objek yang harus dikendalikan. Persoalannya bukan semata-mata apakah perempuan memperoleh kedudukan setara dengan laki-laki, melainkan apakah mereka dapat menjadi subjek yang menentukan makna pengalaman dan kehidupannya sendiri.
Pertiwi merupakan representasi paling jelas dari penolakan terhadap posisi perempuan yang pasif. Ia tidak selalu tenang, tidak selalu memaafkan, dan tidak berusaha memenuhi harapan masyarakat mengenai bagaimana seorang perempuan seharusnya menghadapi penderitaan. Kemarahannya menjadi bagian dari agensinya. Walaupun demikian, Pertiwi bukan satu-satunya karakter perempuan yang penting.
Niken memperlihatkan bagaimana ketakutan terhadap laki-laki berkuasa dapat membatasi tindakan perempuan. Mak Ira, dengan pengalaman marginalisasinya sebagai mantan pekerja seks, menawarkan penerimaan dan solidaritas kepada Pertiwi. Sementara itu, Raras dan ibunya menghadirkan perjuangan perempuan difabel untuk menyampaikan pengalaman kekerasan seksual agar dapat didengar dan dipercaya. Mereka menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu mengambil bentuk yang sama.
Keberagaman karakter ini penting. Pertiwi melawan melalui konfrontasi, Mak Ira melalui solidaritas dan kemandirian ekonomi, sedangkan Raras dan ibunya berjuang agar pengalaman mereka memperoleh pengakuan. Agensi perempuan dapat hadir melalui kemarahan, keberanian bersaksi, kerja, maupun usaha membangun kehidupan baru. Kamila tidak menawarkan satu model perempuan ideal, melainkan memperlihatkan bagaimana perempuan dengan pengalaman berbeda-beda berusaha mengambil kembali kendali atas hidup mereka. Kamila sebagai sutradara perempuan menghindari penafsiran tunggal semacam itu. Penunggalan makna atas beragam makna sama saja dengan pembungkaman terhadap kaum perempuan.
Dalam konteks ini, kepengarangan perempuan menjadi menarik bukan karena identitas sutradara menentukan makna film secara otomatis, melainkan karena pilihan naratifnya menjadikan pengalaman perempuan sebagai pusat cerita. Perempuan tidak hanya menjadi objek yang diamati atau penyebab perubahan bagi tokoh lain. Mereka memiliki persoalan, kehendak, dan cara bertahan hidup sendiri. Film juga memperlihatkan batas agensi tersebut: memiliki kehendak tidak selalu berarti memiliki kuasa untuk mewujudkannya. Kebebasan perempuan tetap berhadapan dengan struktur sosial yang menentukan siapa yang boleh bertindak dan siapa yang harus menerima keadaan.
Empat Wajah Kekuasaan Maskulin
Keterkungkungan Pertiwi tidak berasal dari satu laki-laki, melainkan dari beberapa pusat kekuasaan yang saling berkaitan. Sapto merepresentasikan penguasaan sumber daya ekonomi, ayah Pertiwi memperlihatkan pengkhianatan terhadap fungsi keluarga sebagai pelindung, Jonet berkaitan dengan kekerasan yang dialami Pertiwi, sedangkan Fajar mewakili otoritas politik dan administratif desa. Keempat figur ini dapat dibaca sebagai empat wajah dominasi maskulin: ekonomi, keluarga, tubuh, dan politik.
Pengkhianatan ayah Pertiwi menjadi salah satu aspek paling menyakitkan dalam cerita. Keluarga yang seharusnya melindungi justru menjadi bagian dari kondisi yang membuat perempuan rentan terhadap kekerasan. Dengan demikian, patriarki tidak hanya bekerja di ruang publik, tetapi juga di dalam keluarga, melalui otoritas yang menganggap kehidupan anak perempuan dapat ditentukan oleh pihak lain.
Di sisi lain, Sapto dan Fajar memperlihatkan bagaimana kekuasaan memiliki dukungan material dan institusional. Sapto menguasai pasokan listrik desa, sedangkan Fajar memiliki jabatan sebagai kepala desa. Kekuasaan tersebut bukan sekadar persoalan karakter pribadi. Keduanya berkaitan dengan kemampuan untuk memengaruhi kehidupan masyarakat. Jonet, sebagai figur laki-laki yang berhubungan dengan kekerasan terhadap Pertiwi dan juga memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan desa, memperlihatkan bahwa ancaman terhadap perempuan tidak berdiri terpisah dari hierarki sosial.
Pembacaan
ini berkembang ketika dikaitkan dengan pengalaman Pertiwi setelah keluar dari
penjara. Ia telah menjalani hukuman formal, tetapi hukuman sosial tidak
berakhir. Masyarakat masih memandangnya sebagai pembunuh, sementara pengalaman
kekerasan yang melatarbelakangi tindakannya tidak otomatis menjadi dasar
penerimaan. Ia kembali ke kampung halaman, tetapi tidak benar-benar mendapatkan
kembali tempatnya di dalam masyarakat.
Relaitas ini memunculkan sebuah paradoks. Sistem mampu menghukum perempuan,
tetapi belum tentu mampu memberikan perlindungan yang memadai bagi perempuan
lain yang mengalami kekerasan. Raras, misalnya, masih harus menghadapi
perjuangan agar kesaksiannya dapat didengar. Penderitaan Pertiwi dengan
demikian bukan hanya konflik personal dengan orang-orang dari masa lalu,
melainkan bagian dari struktur sosial yang memungkinkan kekerasan dan stigma
terus berlangsung.
Dalam perspektif Irigaray, situasi tersebut berkaitan dengan tatanan yang menjadikan subjek maskulin sebagai ukuran untuk mendefinisikan perempuan. Pertiwi tidak bebas hanya dengan keluar dari penjara karena masyarakat masih menentukan siapa dirinya melalui label yang dilekatkan kepadanya. Tubuh, reputasi, dan masa depannya tetap menjadi objek penilaian orang lain.
Keempat figur laki-laki beriringan beriringan dengan judul Empat Musim Pertiwi. Hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan interpretasi, bukan sebagai maksud simbolis sutradara yang telah terkonfirmasi. Namun, mereka dapat dibaca sebagai representasi beragam bentuk kuasa yang harus dihadapi Pertiwi. Kekuasaan atas tubuh, keluarga, ekonomi, dan politik membuat kebebasan tidak cukup diperjuangkan melalui keberanian individual. Selama struktur yang menopang dominasi tetap bertahan, perlawanan selalu berhadapan dengan batas-batas yang sulit ditembus.
Mimesis Feminin: Melawan dan Membangun Solidaritas
Salah satu konsep Luce Irigaray yang relevan untuk membaca Pertiwi adalah mimesis, yakni strategi mengulang citra atau definisi yang dibentuk oleh tatanan maskulin secara berlebihan sehingga kontradiksi di dalamnya menjadi terlihat. Dalam konteks film, Pertiwi dapat didefinisikan sebagai perempuan yang mengganggu ekspektasi masyarakat tentang korban yang seharusnya tenang, patuh, dan mudah dimaafkan.
Masyarakat memandang Pertiwi sebagai pembunuh yang berbahaya. Namun, ia tidak berusaha sepenuhnya menghapus citra tersebut demi memperoleh penerimaan. Ia hadir sebagai sosok yang dapat menimbulkan ketakutan. Pertiwi bukan lagi semata-mata pihak yang terancam, tetapi juga menjadi ancaman bagi tatanan yang menolaknya.
Pembacaan melalui mimesis ini bukan berarti Pertiwi secara sadar meniru laki-laki. Lebih tepatnya, tindakannya mengganggu kategori yang menentukan bagaimana perempuan semestinya berperilaku. Ia tidak tampil sebagai korban ideal yang sabar dan pasrah, tetapi sebagai perempuan yang marah, brutal, dan bersedia melakukan tindakan yang mengusik ketertiban sosial.
Akan tetapi, menjadi sosok yang ditakuti tidak otomatis berarti menjadi bebas. Jika Pertiwi memperoleh daya dengan menempati posisi yang sebelumnya digunakan oleh kekuasaan maskulin, ia mungkin hanya membalik posisi dalam relasi dominasi, bukan sepenuhnya menghancurkan logikanya. Kekuasaan yang sebelumnya berada di tangan laki-laki kini diganggu oleh perempuan, tetapi hubungan antara ancaman, ketakutan, dan kekerasan tetap menjadi persoalan.
Kita lihat Niken misalnya. Ia menjadi pembanding yang penting. Ketakutannya terhadap laki-laki berkuasa memperlihatkan bahwa tidak semua perempuan memiliki ruang yang sama untuk melawan. Perbedaan antara Pertiwi dan Niken bukan semata-mata persoalan keberanian, tetapi juga risiko yang harus mereka hadapi. Perempuan yang melawan secara terbuka dapat mengalami konsekuensi berbeda dari perempuan yang memilih bertahan karena tidak memiliki ruang aman.
Perlawanan Pertiwi tidak berhenti pada kemarahan. Bersama Mak Ira, ia membangun usaha katering dan berupaya menciptakan kehidupan yang lebih mandiri. Ia juga membangun rumah aman serta menjalin solidaritas dengan orang-orang yang mengalami pengucilan, termasuk Kuntet dan Raras. Perlawanan tidak hanya berarti menghadapi pelaku kekerasan, tetapi juga membangun ruang hidup yang tidak sepenuhnya bergantung pada tatanan dominan.
Film memberikan kemungkinan pembebasan yang lebih konkret. Usaha ekonomi, rumah aman, dan solidaritas antarkelompok marginal memperlihatkan bahwa mereka yang ditolak masyarakat dapat membangun sumber daya dan kehidupan bersama. Ketika keluarga dan institusi gagal menyediakan perlindungan, komunitas dapat menjadi tempat untuk menciptakan bentuk dukungan alternatif.
Walaupun terlihat berhasil, solidaritas tidak otomatis menghasilkan kemenangan. Kemandirian ekonomi tidak serta-merta menghentikan kekerasan seksual, dan keberanian individual tidak otomatis mengubah struktur politik. Perlawanan Pertiwi bergerak di antara dua kemungkinan, membangun kehidupan baru dengan sumber daya yang tersedia dan menghadapi kenyataan bahwa sistem dominan tetap sulit digoyahkan.
Karena itu, kekuatan karakter Pertiwi tidak seharusnya hanya diukur dari keberaniannya membalas. Usahanya membangun relasi dan kehidupan bersama juga merupakan bagian penting dari perlawanan. Film memperlihatkan bahwa pembebasan bukan sekadar mengalahkan pihak yang menindas, melainkan menciptakan kondisi agar orang-orang yang terpinggirkan dapat menentukan hidupnya sendiri. Persoalannya, apakah usaha tersebut cukup untuk menghadapi kekuasaan yang selama ini menentukan aturan kehidupan desa? Pertanyaan itulah yang membawa film menuju penyelesaian supranatural.
Monster, “Santet”, dan UFO: Kebebasan di Luar Realitas
Unsur supranatural dalam Empat Musim Pertiwi memperluas persoalan perlawanan dari ranah sosial menuju trauma, pembalasan, dan utopia. Monster hutan yang menghantui Pertiwi dan Raras dapat dibaca sebagai visualisasi trauma yang terus membayangi perempuan. Pertiwi telah keluar dari penjara, tetapi masa lalunya tidak sepenuhnya meninggalkannya. Raras pun menghadapi pengalaman kekerasan yang menunjukkan bahwa penderitaan perempuan bukan persoalan individual yang selesai pada satu tokoh.
Monster menjadi gambaran tentang ketakutan yang sulit dijelaskan sekaligus jejak kekerasan yang terus berulang. Kehadirannya mengingatkan bahwa trauma tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan telah berlalu. Masa lalu dapat terus mengikuti perempuan ke dalam kehidupan yang hendak mereka bangun kembali. Dalam hal ini, monster bukan hanya ancaman fantastis, tetapi juga cara film menghadirkan sesuatu yang tidak mudah terlihat atau dipahami oleh orang lain. Pengalaman korban yang tetap nyata meskipun tidak selalu dipercaya masyarakat.
Pada bagian akhir, perlawanan mengambil bentuk lebih radikal. Empat figur laki-laki yang menjadi pusat kekuasaan dalam kehidupan Pertiwi dibunuh melalui kekuatan supranatural yang menyerupai “santet”. Mereka yang sebelumnya memiliki kuasa untuk mengendalikan dan menimbulkan ketakutan justru kehilangan kendali atas nasibnya sendiri. Kekuatan supranatural ini menjadi pembalikan relasi kuasa. Perempuan yang selama ini menjadi objek kekerasan kini mempunyai daya untuk menyerang balik.
Pembalasan ini dapat dianalisis sebagai fantasi keadilan ketika jalur sosial dan hukum tidak memberikan penyelesaian yang memadai. Di sisi lain, film tidak langsung serta-merta menyatakan bahwa pembalasan merupakan jalan keluar yang sempurna. Kematian para pelaku tidak otomatis menghapus struktur patriarki. “Santet” justru menandai betapa sulitnya membayangkan kemenangan ketika sistem yang tersedia tidak cukup mampu melawan kekuasaan dominan.
Unsur supranatural di sini menjadi penting bukan sebagai solusi yang dapat diterapkan begitu saja dalam realitas, melainkan sebagai perangkat sinematik untuk membayangkan perlawanan yang melampaui batas-batas imajinasi dunia sosial. Jika kekuasaan bertahan melalui ekonomi, jabatan, norma, dan otoritas, santet menghadirkan kekuatan yang tidak tunduk pada mekanisme tersebut. Perempuan akhirnya dapat membalas, tetapi kemenangan itu tetap menyimpan pertanyaan mengenai apakah keadilan telah tercapai atau kekerasan hanya berakhir melalui kekerasan lain.
Kemunculan UFO di penghujung film membawa ironi tersebut lebih jauh. Jika santet memungkinkan pembalasan terhadap para penindas, UFO dapat dibaca sebagai simbol utopis. Kemungkinan untuk keluar dari dunia yang selama ini mengurung Pertiwi. Akan tetapi, mengapa perempuan harus membayangkan kekuatan supranatural dan meninggalkan dunia manusia untuk memperoleh kemungkinan kebebasan? Mengapa perlindungan tidak cukup datang dari keluarga, masyarakat, atau institusi yang semestinya menjamin haknya?
UFO di sini menghadirkan dua kemungkinan pembacaan. Ia dapat menjadi simbol pembebasan radikal, ruang lain yang tidak sepenuhnya tunduk pada aturan dunia yang menindas Pertiwi. Di samping itu, ia juga dapat dibaca sebagai tanda kegagalan dunia sosial dalam menyediakan tempat aman bagi perempuan. Jika kebebasan baru mungkin terjadi di luar realitas sehari-hari, maka film sekaligus mempertanyakan apakah sistem yang ada benar-benar memungkinkan perempuan hidup sebagai subjek yang merdeka.
Meski demikian, pembebasan dalam film tidak seluruhnya berada di wilayah fantastis. Usaha bersama Mak Ira dan pembangunan rumah aman menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai melalui solidaritas dan kemandirian. Perbedaan antara usaha konkret tersebut dan pembalasan supernatural justru memperlihatkan ketegangan utama film. Perempuan dapat membangun kehidupan baru, tetapi kemenangan itu tetap rapuh selama struktur yang membatasi mereka tidak berubah.
Pertanyaan “Pertiwi bebas?” akhirnya tidak dapat dijawab hanya dengan melihat apakah ia berhasil membalas para pelaku atau meninggalkan dunia yang menindasnya. Kebebasan juga berarti dapat hidup tanpa terus didefinisikan oleh kekerasan, stigma, dan ketakutan. Barangkali bagian paling getir dari Empat Musim Pertiwi adalah kenyataan bahwa perempuan masih harus membayangkan kekuatan supranatural sseperti “santet” untuk melawan para penindasnya dan UFO untuk memperoleh kemungkinan keluar dari dunia tersebut.
Pertiwi mungkin telah menemukan jalan keluar, tetapi film ini meninggalkan pertanyaan yang lebih besar, “dunia macam apa yang membuat perempuan harus membayangkan kekuatan supranatural agar dapat merdeka?”