Film Sleep Call (2023) karya Fajar Nugros seolah muncul sebagai sebuah anomali dalam lanskap perfilman Indonesia yang didominasi oleh dua genre utama: horor dan komedi. Dalam beberapa dekade terakhir, film horor dan komedi telah mendominasi box office Indonesia, menawarkan hiburan yang mudah diakses dan secara luas diterima oleh audiens. Namun, Sleep Call memilih jalan yang berbeda dengan mengusung genre thriller, sebuah langkah yang berani tetapi penuh risiko dalam konteks industri film Indonesia. Hal ini sebagai tanda bahwa film ini berusaha untuk keluar dari pakem mainstream dengan menawarkan sesuatu yang baru dan segar. Di sisi lain film ini dimungkinkan terjebak dalam pola representasi gender yang konvensional sehingga bisa menciptakan sebuah paradoks. Tulisan ini akan membahas paradoks itu.
Keluar dari genre Mainstream
Industri film Indonesia dikenal dengan kecenderungannya untuk mengulang formula yang sudah terbukti sukses. Film horor dan komedi telah lama menjadi pilihan utama bagi para sineas karena kedua genre ini menawarkan jaminan komersial yang relatif aman. Horor, dengan daya tariknya yang kuat terhadap ketakutan dan adrenalin, serta komedi, dengan humornya yang ringan dan relatable, telah menjadi andalan dalam industri ini. Namun, Sleep Call menantang status quo dengan mengusung genre thriller, yang jarang dijumpai di layar lebar Indonesia.
Jika kita melihat ke belakang, film thriller dalam industri film Indonesia memang jarang sekali mendapat panggung yang besar. Salah satu film yang bisa dijadikan perbandingan adalah Pintu Terlarang (2009) garapan Joko Anwar. Film ini juga mencoba mengeksplorasi elemen-elemen psikologis dan ketegangan yang serupa, namun dengan pendekatan yang lebih abstrak dan surreal. Pintu Terlarang juga mendapat perhatian karena keluar dari pakem genre horor yang biasanya digarap oleh Anwar. Namun, berbeda dengan Sleep Call, Pintu Terlarang berhasil menciptakan narasi yang lebih solid dan menggugah, di mana setiap elemen visual dan naratifnya terjalin dengan baik.
Dalam hal ini, Sleep Call dapat dipandang sebagai upaya yang mirip, namun dengan eksekusi yang berbeda. Nugros lebih memilih untuk menekankan pada realisme psikologis daripada menggunakan simbolisme dan narasi yang abstrak seperti yang dilakukan Anwar. Hal ini menciptakan film yang lebih dekat dengan realitas sehari-hari tetapi dengan kehilangan beberapa lapisan kedalaman simbolik yang membuat Pintu Terlarang begitu kuat.
Salah satu aspek teknis yang menonjol dalam Sleep Call adalah penggunaan efek visual dan color grading yang memperkuat suasana ketegangan dalam film. Misalnya, penggunaan efek visual seperti alarm jam di atas layar ponsel menjadi elemen kecil namun signifikan yang menambah nuansa modern dan canggih pada film ini. Efek ini tidak hanya berfungsi sebagai alat naratif tetapi juga sebagai simbol dari ketidakpastian dan tekanan waktu yang dihadapi oleh karakter utama.
Color grading dalam Sleep Call bisa dibandingkan dengan film Killers (2014), sebuah produksi Indonesia-Jepang yang disutradarai oleh Mo Brothers. Killers menggunakan palet warna yang sangat terkontrol, yang didominasi oleh nuansa dingin untuk menekankan atmosfer yang penuh ketegangan dan ketidakpastian. Sementara Sleep Call mungkin tidak mencapai tingkat kesempurnaan yang sama dalam hal ini, upayanya untuk menggunakan warna sebagai alat untuk menciptakan suasana psikologis patut diapresiasi.
Di balik tampilan visualnya yang kuat, Sleep Call juga menawarkan narasi yang mencoba mendekonstruksi struktur plot konvensional. Alih-alih mengikuti garis besar naratif yang linear dan dapat diprediksi, film ini memilih untuk menyajikan plot yang penuh dengan tikungan dan perubahan arah yang tak terduga. Pendekatan ini memungkinkan film untuk mempertahankan elemen kejutan dan ketegangan, yang merupakan ciri khas genre thriller.
Pendekatan ini bisa dibandingkan dengan film The Girl on the Train (2016), sebuah thriller psikologis yang juga bermain dengan persepsi penonton melalui narasi yang tidak dapat diandalkan. Seperti Sleep Call, The Girl on the Train menggunakan sudut pandang karakter yang terfragmentasi untuk membingungkan dan mengarahkan ulang ekspektasi penonton. Namun, The Girl on the Train mendapat kritik karena alurnya yang berbelit-belit dan kadang sulit diikuti, masalah yang juga bisa ditemukan dalam Sleep Call. Dalam kedua film ini, upaya untuk mendekonstruksi narasi konvensional menghasilkan cerita yang menarik namun menantang bagi penonton.
Transmedia Storytelling sebagai Strategi
Sebagai bagian dari upaya untuk memperluas jangkauan dan keterlibatan audiens, Sleep Call juga memanfaatkan pendekatan transmedia dengan merambah ke platform media sosial seperti Instagram. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkaya narasi film dan menciptakan pengalaman yang lebih imersif bagi penonton. Dengan memperkenalkan akun-akun karakter di Instagram, Sleep Call berusaha untuk membawa penonton ke dalam dunia fiksi yang lebih luas, memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi cerita lebih dalam di luar layar.
Transmedia storytelling adalah konsep yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan sineas yang ingin memperluas narasi mereka ke berbagai platform media. Henry Jenkins (2006) menjelaskan bahwa transmedia storytelling memungkinkan narasi untuk berkembang melalui berbagai media yang saling melengkapi, menciptakan pengalaman yang lebih komprehensif bagi audiens. Dalam konteks Sleep Call, pendekatan ini diterapkan dengan menciptakan akun-akun media sosial yang dikelola seolah-olah oleh karakter-karakter dalam film, sehingga penonton dapat mengikuti cerita mereka di luar bioskop.
Pendekatan ini bisa dibandingkan dengan strategi yang digunakan dalam film Cloverfield (2008). Cloverfield menggunakan berbagai platform media, termasuk website fiktif dan kampanye viral, untuk membangun dunia yang lebih luas dan meningkatkan misteri di balik film. Meskipun Sleep Call mencoba menerapkan strategi serupa, skalanya jelas lebih kecil dan mungkin kurang mendapatkan perhatian yang signifikan dari audiens mainstream.
Pada praktiknya konsep ini masih gagal dimanfaatkan dalam film. Salah satu alasan mengapa strategi transmedia dalam Sleep Call tidak sepenuhnya berhasil adalah karena kurangnya keterlibatan emosional yang mendalam antara penonton dan karakter-karakternya. Meskipun akun-akun media sosial karakter memberikan informasi tambahan dan memperkaya narasi, mereka mungkin tidak cukup untuk menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan audiens. Tanpa ikatan ini, pengalaman transmedia bisa terasa dangkal atau bahkan membingungkan bagi beberapa penonton.
Ini bisa dibandingkan dengan film The Dark Knight (2008), yang juga memanfaatkan kampanye transmedia, termasuk website, permainan interaktif, dan teaser viral yang semuanya diintegrasikan secara mendalam ke dalam narasi film. Berbeda dengan Sleep Call, The Dark Knight berhasil menciptakan kegembiraan dan keterlibatan yang luas, sebagian karena sudah ada ikatan emosional yang kuat antara penonton dan karakter-karakter seperti Batman dan Joker. Ini menunjukkan bahwa kekuatan utama dari transmedia tidak hanya pada teknologi atau strategi, tetapi juga pada seberapa kuat narasi inti film itu sendiri.
Representasi Gender dan Analisis Karakter Dina
Di balik segala inovasi naratif dan visual yang ditawarkan oleh Sleep Call, terdapat isu yang lebih mendasar dalam hal representasi gender. Karakter utama, Dina, diperankan sebagai seorang perempuan yang terjebak dalam situasi yang penuh tekanan dan akhirnya mengambil keputusan-keputusan ekstrem. Meskipun karakter ini memiliki potensi untuk menjadi representasi perempuan yang kuat dan mandiri, dalam prakteknya, film ini justru memperkuat stereotip lama tentang perempuan.
Dina sebagai Karakter Femme Fatale dan Psikopat
Karakter Dina dalam Sleep Call dapat dilihat sebagai representasi dari arketipe femme fatale, yang sering kali digunakan dalam genre thriller dan film noir. Femme fatale adalah karakter perempuan yang memanfaatkan kecantikan dan kecerdasannya untuk memanipulasi pria dan mencapai tujuan-tujuannya sendiri, sering kali dengan cara yang berbahaya atau merusak. Dalam kasus Dina, karakter ini diperlihatkan sebagai seseorang yang mengalami tekanan besar dari lingkungan sekitarnya, yang akhirnya mendorongnya ke dalam tindakan-tindakan yang destruktif.
Representasi ini bisa dibandingkan dengan karakter Amy dalam Gone Girl (2014). Amy, seperti Dina, juga digambarkan sebagai femme fatale yang menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi pria, khususnya suaminya, dalam plot yang rumit dan penuh tipu daya. Namun, sementara Gone Girl berhasil membangun karakter Amy dengan kedalaman psikologis yang membuat penonton mempertanyakan moralitas dan motifnya, Sleep Call lebih cenderung menempatkan Dina dalam peran yang lebih satu dimensi sebagai seorang psikopat yang tidak stabil.
Penis Envy dan Teori Feminisme Luce Irigaray
Untuk menganalisis lebih dalam karakter Dina, kita dapat merujuk pada teori-teori feminis klasik seperti teori penis envy yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud, serta pandangan Luce Irigaray tentang seksualitas perempuan. Freud (1905) mengemukakan konsep penis envy sebagai rasa iri yang dialami oleh perempuan terhadap laki-laki karena mereka tidak memiliki penis, yang dalam masyarakat patriarkal dianggap sebagai simbol kekuasaan dan otoritas. Meskipun teori ini telah banyak dikritik oleh feminis modern, konsep ini dapat membantu kita memahami dinamika kekuasaan dan seksualitas yang digambarkan dalam Sleep Call.
Karakter Dina dapat dilihat sebagai perwujudan dari penis envy ini, di mana ia merasa terobsesi dengan Rama, seorang pria yang dianggapnya memiliki kekuasaan atau kendali, tetapi pada akhirnya, ia menghancurkannya sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan tersebut. Dalam pandangan Irigaray (1977), perempuan sering kali digambarkan dalam media sebagai objek seksual yang dirumuskan dalam kaitannya dengan laki-laki, dan bukan sebagai subjek otonom dengan identitas mereka sendiri. Hal ini tercermin dalam karakter Dina, yang tindakannya sebagian besar dimotivasi oleh relasinya dengan Rama, dan bukan oleh keinginan atau tujuan pribadinya sendiri.
Namun, pembunuhan yang dilakukan Dina terhadap Rama juga dapat dilihat sebagai upaya untuk merebut kembali kekuasaan dan otonomi yang selama ini dirampas oleh struktur patriarkal. Dengan membunuh Rama, Dina tidak hanya menghancurkan pria yang mengkhianatinya, tetapi juga menghancurkan simbol kekuasaan yang diwakili oleh Rama. Namun, tindakan ini pada akhirnya tidak berhasil memberdayakan Dina sebagai individu, karena ia tetap terperangkap dalam lingkaran kekerasan dan ketidakstabilan emosional yang sama.
Dampak dan Relevansi Film dalam Konteks Budaya Populer dan Isu Terkini
Dalam konteks budaya populer, Sleep Call memiliki relevansi yang signifikan dengan isu-isu gender yang sedang hangat dibicarakan. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai cerminan dari dinamika kekuasaan dan gender yang ada dalam masyarakat kita. Dalam diskusi tentang representasi perempuan dalam media, Sleep Call menambah kompleksitas perdebatan tentang bagaimana perempuan digambarkan dalam film dan bagaimana narasi tentang mereka dikonstruksi.
Isu representasi gender dalam media bukanlah hal baru. Dalam beberapa dekade terakhir, telah ada banyak diskusi dan kritik terhadap cara media menggambarkan perempuan, terutama dalam genre-genre yang cenderung memperkuat stereotip lama. Menurut Gill (2007), media sering kali gagal untuk menghadirkan perempuan sebagai individu yang kompleks dan multidimensional, dan malah menggambarkan mereka melalui lensa yang terbatas dan seksis.
Sleep Call, meskipun berusaha untuk menghadirkan narasi yang berbeda, tetap jatuh ke dalam perangkap stereotip ini. Dina, sebagai karakter utama, seharusnya dapat menjadi representasi perempuan yang kuat dan mandiri, tetapi pada akhirnya, ia masih digambarkan sebagai sosok yang emosional, tidak stabil, dan berbahaya. Representasi ini memperkuat pandangan yang mereduksi tentang perempuan dan menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan dalam menciptakan narasi yang lebih inklusif dan kompleks dalam media.
Dalam konteks Indonesia, Sleep Call juga relevan dengan beberapa isu sosial dan budaya yang sedang terjadi. Salah satunya adalah meningkatnya kesadaran tentang kekerasan terhadap perempuan dan pentingnya menghadirkan narasi yang lebih sensitif terhadap isu-isu ini. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada peningkatan perhatian terhadap kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, dan bentuk-bentuk lain dari kekerasan berbasis gender di Indonesia. Media, termasuk film, memainkan peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang isu-isu ini.
Namun, Sleep Call gagal untuk memberikan kontribusi yang berarti dalam diskusi ini. Meskipun film ini menampilkan karakter perempuan yang mengalami tekanan dan kekerasan, cara film ini menangani isu tersebut cenderung sensasional dan tidak menawarkan solusi atau refleksi yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kebutuhan yang mendesak untuk menciptakan narasi yang lebih bertanggung jawab dan berempati dalam menggambarkan isu-isu gender dalam media Indonesia.
Pada akhirnya Sleep Call adalah film yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, film ini berhasil keluar dari pakem mainstream dengan menghadirkan genre thriller yang jarang ditemui dalam perfilman Indonesia. Pendekatan transmedia yang diterapkan juga menunjukkan usaha untuk mengeksplorasi cara-cara baru dalam bercerita dan melibatkan audiens. Namun, di sisi lain, film ini tetap terjebak dalam representasi gender yang konvensional, memperkuat stereotip lama tentang perempuan sebagai makhluk yang emosional, tidak stabil, dan berbahaya.
Untuk industri film Indonesia ke depan, penting untuk terus menantang batasan-batasan genre dan narasi, sambil memastikan bahwa representasi gender dalam film-film tersebut tidak terjebak dalam stereotip atau pandangan yang mereduksi. Dengan cara ini, film-film masa depan dapat lebih baik mencerminkan kompleksitas dan kekayaan identitas perempuan dalam masyarakat yang terus berubah.
Referensi
Freud, S. (1905). The Psychopathology of Everyday Life. Standard Edition. Hogarth Press.
Gill, R. (2007). Gender and the Media (2nd ed.). Polity Press.
Irigaray, L. (1977). This Sex Which Is Not One. Cornell University Press.
Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. NYU Press.
Sleep Call dapat ditonton melalui platform prime video