Lanskap

Bisakah Objek menjadi Subjek? Merajut Agensi dalam Lamun Omongan (2023) dan Trashtalk (2023)

Muhammad Rizal ·
Bisakah Objek menjadi Subjek? Merajut Agensi dalam Lamun Omongan (2023) dan Trashtalk (2023)

Lingkar Rajut Sinema kembali menggelar ruang temu nemlikuran #6: Mangayubagya, yang merayakan kebahagiaan, kebebasan berekspresi, dan keberanian menjadi diri sendiri. Namun, dua film pendek yang diputar dalam program ini, Lamun Omongan (2023) karya Moh. Bayu Saputra dan Trashtalk (2023) karya Rizqullah Panggabean, secara tak terduga membuka kemungkinan pembacaan yang lebih jauh. Keduanya tidak hanya berbicara tentang kebahagiaan atau kebebasan berekspresi, tetapi juga tentang siapa yang selama ini kita beri ruang untuk berbicara dan siapa yang kita tempatkan hanya sebagai objek yang dilihat.

Di sinilah kedua film tersebut menemukan simpulnya.

Lamun Omongan membawa penonton ke sebuah warung makan seafood Lamongan. Uniknya, film ini justru memberikan ruang dialog kepada gambar-gambar hewan yang terdapat pada spanduk warung. Lele, ayam, dan hewan-hewan lainnya seolah hidup dan saling berdebat tentang siapa yang paling layak menduduki posisi tertinggi di Lamongan. Perdebatan tersebut berlangsung jenaka, sementara penjual warung hanya muncul seliweran di sekitar mereka, pelanggan ya tetap saja makan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang luar biasa.

image002.jpg

Sumber: Lamun Omongan (2023)

Pilihan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya cukup radikal. Hewan-hewan yang dalam kehidupan sehari-hari hanya menjadi gambar dekoratif pada spandu, bahkan mungkin tidak pernah kita perhatikan, justru diberi suara, karakter, kehendak, dan ruang untuk berdebat. Sesuatu yang semula hanya menjadi objek visual tiba-tiba memperoleh agensi sebagai subjek cerita.

Film ini dengan demikian tidak perlu menjadikan manusia sebagai pusat. Manusia justru berada di pinggir, sementara objek yang biasanya tidak memiliki suara mengambil alih panggung. Kelucuan yang muncul dari percakapan para hewan tersebut sekaligus membuat proses itu terasa ringan: kita diajak tertawa, tetapi dalam waktu yang sama diajak menyadari bahwa dunia di sekitar kita sebenarnya dapat dibayangkan melalui perspektif yang berbeda dari perspektif manusia.

Hal yang serupa, meski dengan cara yang berbeda, muncul dalam Trashtalk. Film karya Rizqullah Panggabean ini menggunakan bentuk WhatsApp Story sebagai medium penceritaan. Penonton seolah-olah sedang membuka dan menyaksikan story milik Sulis, seorang petugas kebersihan yang membagikan kesehariannya di media sosial. Alih-alih ditempatkan sebagai karakter yang diamati dari luar, Sulis justru menghadirkan dirinya sendiri melalui fragmen-fragmen kehidupan yang ia bagikan.

image004.jpg

Sumber: Trash Talk (2023)

Pilihan bentuk ini menarik karena film tidak pernah terlalu sibuk mempertanyakan Siapa sebenarnya yang sedang menonton story ini?" Penonton begitu saja ditempatkan pada posisi orang yang melihat kehidupan Sulis melalui layar. Kita menjadi subjek yang mengamati, sementara Sulis menjadi objek yang kita lihat. Namun, semakin lama film berjalan, posisi tersebut menjadi tidak sesederhana itu. Apa yang kita lihat sebagai objek ternyata memiliki kehidupan, pengalaman, perasaan, dan cerita yang berjalan di luar pengetahuan kita. Dengan kata lain, Trashtalk mengingatkan bahwa objek pengamatan kita sesungguhnya dapat memiliki subjektivitasnya sendiri.

Dua film tersebut akhirnya bertemu pada satu pertanyaan penting: bagaimana jika sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai objek ternyata memiliki agensi sebagai subjek? 

Pertanyaan tersebut membuat tema Mangayubagya memperoleh lapisan lain. Jika kemerdekaan dimaknai sebagai kebebasan untuk berekspresi dan merayakan keberadaan diri, maka siapa sebenarnya yang berhak memperoleh kemerdekaan tersebut? Apakah hanya manusia? Atau mungkinkah kita juga membayangkan bentuk kemerdekaan bagi entitas lain yang selama ini kita anggap tidak memiliki suara?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika Lamun Omongan membuat gambar-gambar hewan pada spanduk seolah memiliki kehidupan dan kehendak sendiri. Kita terbiasa memandang hewan, tumbuhan, benda, bahkan alam sebagai sesuatu yang berada di sekitar manusia, sebagai objek yang dapat dilihat, dimanfaatkan, dikonsumsi, atau dikuasai. Tetapi film justru melakukan pembalikan sederhana: bagaimana jika yang selama ini kita lihat juga dapat melihat? Bagaimana jika yang selama ini kita jadikan objek juga memiliki cerita?

Pada titik ini, pembacaan terhadap kedua film dapat ditarik pada gagasan antropomorfisme, yakni kecenderungan memberikan sifat, emosi, kehendak, atau kualitas manusia kepada entitas nonmanusia. Dalam sejarah perfilman, pendekatan semacam ini bukan sesuatu yang asing. Film-film popular seperti Toy Story dan Cars, misalnya, membangun dunia tempat benda-benda yang secara nyata tidak memiliki kehidupan justru memiliki suara, perasaan, relasi sosial, dan kehendak.

Namun, antropomorfisme dalam konteks ini bukan semata-mata karena benda atau hewan dibuat seperti manusia. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi ketika kita memberikan agensi kepada sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak memiliki agensi.

Dalam perspektif yang lebih luas, gagasan tersebut dapat dibaca beririsan dengan pergeseran cara manusia memandang dirinya di dalam dunia. Jika pandangan kosmologis tertentu menempatkan Tuhan sebagai pusat, modernitas kemudian menggeser manusia ke posisi pusat melalui humanisme dan antroposentrisme. Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat pertimbangan, sehingga alam dan entitas nonmanusia cenderung ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di luar manusia dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingannya.

Pemikiran posthuman kemudian mempertanyakan kembali posisi istimewa manusia tersebut. Manusia tidak lagi harus dipahami sebagai satu-satunya pusat. Alam, hewan, teknologi, artificial intelligence, benda, dan entitas nonmanusia lainnya dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan dan keberadaan yang saling berkelindan.

Dalam kerangka ini, Lamun Omongan dan Trashtalk menjadi relevan bukan karena keduanya secara eksplisit berbicara tentang posthumanisme, melainkan karena cara keduanya membangun cerita memungkinkan kita membayangkan dunia yang tidak sepenuhnya berpusat pada manusia atau yang dianggap superior.

Lamun Omongan memberi suara kepada hewan yang bahkan hanya hadir sebagai gambar. Trashtalk memberi ruang kepada kehidupan seorang pekerja yang mungkin dalam keseharian justru mudah diabaikan. Yang satu bergerak melalui benda dan representasi nonmanusia, yang lain bergerak melalui seseorang yang keberadaannya kerap direduksi oleh stigma terhadap profesinya. Keduanya sama-sama melakukan pembalikan posisi, sesuatu yang semula berada di pinggir dipindahkan ke pusat cerita.

Di sinilah Mangayubagya menjadi lebih dari sekadar perayaan kebahagiaan yang sederhana. Kemerdekaan berekspresi ternyata juga dapat dibaca sebagai persoalan kemerdekaan untuk hadir dan memiliki cerita. Kita mungkin tidak harus sepakat bahwa hewan dalam spanduk benar-benar memiliki perasaan seperti manusia. Kita juga tidak mungkin mengetahui secara pasti apa yang dipikirkan sebuah benda. Tetapi film memberi kita kesempatan untuk membayangkan kemungkinan tersebut.

Tentu pemahaman ini tak lepas dari kritik juga. Ketika manusia membuat entitas nonmanusia berbicara, bukankah suara yang kita dengar pada akhirnya tetap merupakan suara manusia? Kita tidak benar-benar memiliki akses langsung terhadap perasaan seekor hewan, sebuah benda, atau alam. Ketika sutradara memberikan mereka dialog dan karakter, bukankah manusia kembali mengambil alih hak untuk menentukan bagaimana yang lain berbicara?

Pertanyaan ini menjadi konsekuensi penting dari antropomorfisme. Memberikan agensi kepada entitas lain dapat menjadi upaya membongkar dominasi manusia, tetapi pada saat yang sama dapat pula menjadi bentuk dominasi baru karena manusia tetap menjadi pihak yang menentukan suara, karakter, dan perasaan mereka.

Meski demikian, justru di situlah kekuatan dua film yang diputar dalam Mangayubagya. Keduanya tidak harus memberikan jawaban atas persoalan tersebut. Film cukup membuka celah bagi kita untuk berhenti sejenak dari kebiasaan memandang dunia hanya dari pusat pengalaman manusia.

Dari lele, ayam, dan hewan lain yang berdebat di spanduk warung hingga WhatsApp Story seorang petugas kebersihan, kita diajak melihat bahwa sesuatu yang tampak sepele belum tentu tidak memiliki cerita. Yang kita anggap objek mungkin memiliki jalan hidupnya sendiri. Yang kita kira hanya gambar mungkin dapat kita bayangkan memiliki suara. Dan seseorang yang sehari-hari kita lewati begitu saja mungkin sedang menjalani dunia yang sama kompleksnya dengan dunia kita.

Maka, merayakan kemerdekaan dalam Mangayubagya tidak harus selalu berarti merayakan kebebasan manusia. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk mempertanyakan kembali siapa yang selama ini kita beri hak untuk bersuara, siapa yang kita jadikan objek, dan siapa yang kita tempatkan di luar pusat perhatian.

Sebab mungkin, kemerdekaan yang paling sederhana bukan hanya tentang kemampuan untuk bersuara, tetapi juga tentang kesediaan kita untuk menyadari bahwa yang lain pun mungkin memiliki sesuatu untuk disuarakan.

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!
Muhammad Rizal
Penulis
Muhammad Rizal

Film and Literature Studies

Lihat semua tulisan →

Dari Rubrik yang Sama