Bunyi Menapak Bhumi tidak hanya berbicara tentang bumi sebagai tempat berpijak, tetapi juga mengajak kita mendekatinya melalui bunyi. Film ini mengikuti perjalanan maestro musik Peni Candra Rini, komponis yang melampaui batas tradisi untuk menciptakan musik kontemporer. Berbekal penguasaan seni tradisi, Peni mengolah gamelan dan meleburkannya dengan instrumen Barat. Namun, yang menjadi fokus bukan hanya musik yang ia ciptakan, melainkan cara tubuh dan suaranya menghadirkan sesuatu di luar manusia: burung, katak, gemuruh bumi, dan suara-suara alam.
Disutradarai dan ditulis oleh Renni Apriliana, diproduseri Fanny Chotimah, serta diproduksi oleh Yayasan Kembang Gula, film ini menjadikan perjalanan artistik Peni sebagai pintu masuk untuk membicarakan hubungan manusia dengan bumi. Pemutaran perdananya penting bukan hanya karena memperkenalkan karya baru, tetapi juga karena menawarkan cara pandang yang relevan ketika bumi sedang berada dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Pemutaran ini pun terasa sakral, bukan dalam pengertian seremonial semata, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang mengajak penonton untuk hadir, mendengar, dan menyadari kembali hubungan mereka dengan bumi.
Mendengar Bumi
Judul Bunyi Menapak Bhumi menyimpan paradoks yang mengundang pembacaan. “Menapak bumi” biasanya dipahami sebagai metafora untuk tetap berpijak pada kenyataan. Namun film ini mengubahnya menjadi tindakan yang lebih literal sekaligus ekologis. Menapak bumi berarti kembali berhubungan dengan tempat kita berpijak. Hubungan itu tidak dimulai dari melihat, melainkan dari mendengar.
Peni menyanyi, menembang, berteriak, dan menirukan suara burung, katak, serta gemuruh bumi. Alam yang biasanya ditempatkan sebagai latar kehidupan manusia masuk ke dalam praktik musikalnya. Film ini menggeser alam dari sesuatu yang hanya dilihat menjadi sesuatu yang didengar. Hutan, gunung, dan sungai tidak lagi sekadar lanskap, tetapi bagian dari dunia bunyi yang mengajak kita bertanya, bagaimana jika alam bukan hanya sesuatu yang dapat kita lihat, melainkan sesuatu yang seharusnya kita dengarkan?
Sinopsis film menyebut gagasan penting bahwa ibu bumi bukan hanya memberi, tetapi juga membutuhkan perlindungan. Ungkapan ibu bumi membawa tubuh bumi ke dalam imajinasi feminin, bumi dibayangkan sebagai sosok yang melahirkan, memberi kehidupan, menyediakan kebutuhan, dan merawat.
Gagasan ini berdekatan dengan ekofeminisme yang melihat hubungan historis antara penaklukan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam. Keduanya sama-sama dapat ditempatkan sebagai "yang lain", sesuatu yang boleh digunakan, dikendalikan, dan dieksploitasi oleh struktur kekuasaan.
Meski demikian, Bunyi Menapak Bhumi tidak berhenti pada gagasan bahwa perempuan sama dengan alam. Film ini lebih tepat dibaca sebagai upaya menghadirkan nilai-nilai yang secara kultural diasosiasikan dengan feminin, kepedulian, perhatian, relasi, kelembutan, dan kemampuan mendengarkan. Perempuan tidak dianggap secara biologis lebih dekat dengan alam. Sebaliknya, film ini mengajukan pertanyaan, bagaimana jika cara kita memperlakukan bumi selama ini terlalu dominatif, menaklukkan, menguasai, mengambil, dan mengeksploitasi, sehingga kita membutuhkan relasi yang lebih berbasis pada kepedulian?
Dengan demikian, feminin dalam film ini lebih tepat dipahami sebagai sensibilitas etis, bukan sifat biologis perempuan. Di dalamnya, merawat menjadi alternatif terhadap logika dominasi, sementara mendengarkan menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih setara dengan dunia nonmanusia.
Perempuan, Bunyi, dan Agensi Penciptaan
Pembacaan tersebut semakin masuk akal karena posisi perempuan dalam film tidak hanya berada di depan kamera. Peni Candra Rini sebagai maestro dan pencipta, Renni Apriliana sebagai sutradara dan penulis, serta Fanny Chotimah sebagai produser menempati posisi penting dalam produksi pengetahuan dan kebudayaan. Dengan demikian, film tentang perempuan ini tidak hanya menjadikan perempuan sebagai objek representasi, tetapi juga digarap melalui pengalaman, agensi, dan perspektif perempuan.
Keterlibatan perempuan pada berbagai posisi kunci membuat keberpihakan film terhadap pengalaman perempuan dan persoalan ekologis tampak jelas. Dalam kerangka ekofeminisme, alam kerap diasosiasikan dengan keperempuanan karena keduanya sama-sama ditempatkan dalam posisi yang dieksploitasi, dikendalikan, dan disubordinasikan oleh logika patriarkal. Akan tetapi, film tidak berhenti pada penyamaan sederhana antara perempuan dan alam. Ia justru memperlihatkan bagaimana perempuan dapat menjadi subjek yang berbicara, mencipta, menafsirkan, sekaligus membangun relasi yang lebih peka dengan dunia nonmanusia.
Peni tidak hanya hadir sebagai objek yang sekadar dikagumi, melainkan sebagai maestro yang mencipta, mengolah, menafsirkan, dan menentukan bunyinya sendiri. Keberaniannya melampaui batas tradisi menunjukkan bahwa menjadi perempuan tidak berarti harus berada dalam posisi pasif atau sekadar mempertahankan sesuatu yang telah ada.
Lebih dari itu, Peni juga menunjukkan bahwa tradisi dapat digerakkan. Gamelan tidak diperlakukan sebagai artefak yang harus dibekukan dalam romantisme masa lalu, tetapi dipertemukan dengan instrumen Barat dan dibawa ke ruang musik kontemporer. Film ini pun berbicara tentang perempuan sebagai subjek penciptaan, bukan hanya objek representasi. Agensi tersebut menjadi semakin penting ketika musik Peni digunakan untuk menyuarakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Salah satu bagian yang juga menggugah dari film ini adalah tindakan Peni menirukan suara burung, katak, dan gemuruh bumi. Tindakan tersebut dapat dilihat sebagai metafora alam, tetapi juga dapat dibaca melalui perspektif poshumanisme yang mempertanyakan kedudukan manusia sebagai pusat tunggal kehidupan dan pengetahuan.
Dalam konteks Bunyi Menapak Bhumi, Peni seakan berusaha keluar sejenak dari batas manusia. Ia meminjam suara burung, katak, dan bumi. Tentu manusia tidak benar-benar dapat menjadi makhluk-makhluk tersebut, tetapi tindakan meniru itu penting karena menunjukkan usaha untuk mendengarkan sesuatu yang bukan dirinya.
Dari penjelasan itu, musik menjadi lebih dari sekadar seni. Musik menjadi latihan empati ekologis. Sebelum mampu menjaga alam, manusia mungkin perlu belajar membayangkan bagaimana rasanya mendengar dunia bukan hanya dari telinganya sendiri.
Dari Eksploitasi menuju Pemulihan
Persoalan ekologis Indonesia membuat gagasan tersebut terasa semakin mendesak. Kebakaran hutan, deforestasi, perubahan bentang alam, dan eksploitasi sumber daya menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar manusia tidak peduli lingkungan. Ada sistem ekonomi dan relasi kuasa yang melihat alam terutama sebagai sumber daya. Hutan dihitung dari nilai ekonominya, tanah dari produktivitasnya, dan air dari manfaatnya.
Dalam narasi seperti ini, merawat menjadi kurang penting dibandingkan memiliki. Mendengarkan kalah oleh mengambil. Hubungan digantikan oleh eksploitasi. Karena itu, Bunyi Menapak Bhumi menawarkan narasi yang berbeda. Bukan menaklukkan bumi, tetapi mendengarkannya, Bukan sekadar mengambil dari bumi, tetapi merawatnya. Bukan menjadikan alam sebagai latar kehidupan manusia, tetapi mengakui bahwa manusia berada di dalam jaringan kehidupan tersebut.
Alhasil, film ini memang bercerita tentang Peni Candra Rini, musiknya, keberaniannya melampaui tradisi, serta perjumpaan gamelan dengan instrumen Barat. Walaupun begitu, film kemudian bergerak lebih jauh dengan menghubungkan perjalanan seorang perempuan dengan perjalanan bumi.
Perempuan dan alam sama-sama terlalu mudah dijadikan objek. Perempuan direduksi menjadi tubuh yang dapat dilihat, sementara alam direduksi menjadi sumber daya yang dapat diambil. Bunyi Menapak Bhumi mempertemukan keduanya dalam ruang artistik yang sakral. Perempuan menjadi subjek yang mencipta, sementara bumi diberi kesempatan untuk menjadi sesuatu yang didengar.
Bumi mungkin tidak membutuhkan manusia yang lebih kuat, tetapi manusia yang lebih mampu mendengar. Melalui Bunyi Menapak Bhumi, suara burung, katak, gemuruh tanah, gamelan, dan suara seorang perempuan seakan bertemu dalam satu pesan sederhana: bumi bukan hanya tempat kita berpijak, bumi juga sesuatu yang harus kita dengarkan.