Music video selama ini sering dipahami sebagai produk turunan dari sebuah lagu. Ia hadir setelah musik selesai diciptakan, lalu berfungsi memperluas distribusi sekaligus memperkenalkan lagu kepada khalayak yang lebih luas. Selama bertahun-tahun, lagu dipahami sebagai pengalaman auditif yang membiarkan pendengar membangun imajinasinya sendiri. Music video kemudian menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia menghadirkan wajah bagi suara, tubuh bagi lirik, dan ruang visual bagi emosi yang sebelumnya hanya hidup dalam kepala pendengarnya. Namun, pengalaman mengikuti Lingkar Rajut Sinema #5, justru menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar bagaimana sebuah music video diproduksi.
Melalui program bertajuk Simpul Suara dan Lensa, tiga music video dipertontonkan, yaitu Merasuki dari Mrasuk karya Dito Ardhi, Cherry dari The Skit yang disutradarai Tezze JS, dan Cup Menengo Sayang dari Potareso karya Alfaf Silmy. Diskusi menghadirkan Dito Ardhi sebagai sutradara Merasuki, Tezze sebagai gitaris The Skit, Gun sebagai musisi Potareso, dengan Alfaf Silmy bertindak sebagai moderator. Pertemuan tersebut bukan hanya membicarakan proses kreatif di balik produksi music video, melainkan juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara musik dan sinema sebagai dua medium yang kini semakin sulit dipisahkan.
Salah satu gagasan pemantik yang muncul selama diskusi adalah bahwa lagu pada hari ini tidak lagi cukup hanya didengar. Kehadiran music video dipandang sebagai upaya memperpanjang usia sebuah karya sekaligus memperluas jangkauan audiens. Visual bukan lagi sekadar ilustrasi, tetapi telah menjadi bagian dari strategi artistik sekaligus strategi distribusi. Bagi musisi, music video menjadi pintu untuk menjangkau pendengar baru, sementara bagi sineas, ia menjadi ruang eksplorasi visual yang memungkinkan lahirnya narasi dan tafsir baru atas sebuah lagu.
Pandangan tersebut menunjukkan bagaimana lanskap media telah berubah. Di era digital, karya musik bergerak dalam ekosistem yang didominasi budaya visual. Platform seperti YouTube, Instagram, hingga TikTok memperlihatkan bahwa musik semakin sering hadir bersamaan dengan gambar. Kolaborasi antara musisi dan sineas pun tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kebutuhan promosi, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap cara masyarakat mengonsumsi karya budaya saat ini.
Dalam konteks tersebut, music video menjadi ruang pertemuan dua bahasa artistik. Musik menyediakan emosi dan ritme, sementara sinema menghadirkan tubuh visual yang memungkinkan lagu memperoleh pengalaman baru di hadapan penontonnya. Dengan kata lain, musik dan sinema tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling memperluas kehidupan masing-masing, sekaligus membuka kemungkinan baru tentang bagaimana sebuah karya dapat hidup, didengar, dan ditonton pada saat yang bersamaan.
Kemurnian Lagu dan Gangguan Visual
Salah satu persoalan yang menarik dalam perkembangan music video adalah pertanyaan mengenai seberapa jauh sebuah lagu tetap dapat disebut "murni" ketika ia diterjemahkan ke dalam medium visual. Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban yang benar atau salah, tetapi menjadi penting karena menyentuh hubungan antara musik dan sinema sebagai dua medium yang memiliki cara kerja berbeda.
Dalam tradisi modernisme, setiap cabang seni diyakini memiliki mediumnya sendiri. Musik bekerja melalui bunyi, sastra melalui bahasa, sementara film melalui gambar bergerak. Dengan cara pandang seperti itu, sebuah lagu sesungguhnya telah selesai ketika ia didengar. Pendengar diberi kebebasan membangun ruang visualnya sendiri melalui imajinasi, tanpa diarahkan oleh representasi tertentu.
Music video kemudian mengubah pengalaman tersebut. Ia menghadirkan wajah bagi suara, tubuh bagi lirik, bahkan karakter bagi emosi yang sebelumnya hanya hidup dalam benak pendengar. Visual memang mampu memperkaya pengalaman menikmati lagu, tetapi pada saat yang sama juga dapat mengarahkan, bahkan membatasi, kemungkinan interpretasi yang sebelumnya terbuka. Di titik inilah music video menjadi menarik sebagai objek kajian budaya. Ia bukan sekadar mempertemukan musik dan sinema, melainkan juga mempertemukan dua cara yang berbeda dalam memahami sebuah karya seni.

The Skit - Cherry (2025)
Pandangan tersebut terasa relevan ketika Tezze dari The Skit mengungkapkan bahwa karya-karya mereka tidak perlu diglorifikasi ataupun dijelaskan secara berlebihan. Lagu sengaja dibiarkan terbuka agar setiap pendengar dapat menemukan maknanya sendiri. Pernyataan ini menyiratkan bahwa sebuah karya tidak harus selalu memberikan definisi yang tegas kepada audiensnya.
Namun, ketika lagu yang ingin membebaskan interpretasi itu diwujudkan dalam bentuk music video, muncul sebuah kontradiksi yang menarik. Visual, disadari atau tidak, tetap menawarkan arah pembacaan tertentu. Kebebasan yang sebelumnya dimiliki pendengar perlahan dinegosiasikan kembali oleh gambar. Dengan kata lain, music video tidak hanya memperluas pengalaman mendengar, tetapi juga ikut membentuk cara lagu tersebut dipahami.
Di sisi lain, Dito Ardhi berpandangan bahwa lagu hari ini tidak hanya perlu terdengar, tetapi juga tertonton. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa music video dipahami sebagai perluasan pengalaman artistik, bukan ancaman terhadap musik. Pandangan ini juga mencerminkan perubahan lanskap media digital. Radio yang dahulu cukup didengar kini hadir dalam bentuk podcast video, siaran YouTube, hingga konten media sosial. Musik tampaknya sedang bergerak ke arah yang sama. Karena itu, mempertahankan kemurnian medium mungkin bukan lagi persoalan utamanya. Tantangannya adalah bagaimana visual dapat memperluas pengalaman mendengar tanpa sepenuhnya mengambil alih kebebasan pendengar untuk memaknai sebuah lagu.
Relasi Lagu dan Visual dalam Cherry, Merasuki, dan Cup Menengo Sayang
Cherry membangun hubungan yang dekat antara lagu dan visual. Cerita yang ditampilkan bergerak seiring dengan lirik sehingga penonton tidak dibebani simbol atau metafora yang rumit. Hubungan antar karakter, rasa kehilangan, hingga kesepian yang hadir dalam lagu diterjemahkan secara sederhana. Music video ini tidak berusaha menawarkan pembacaan baru, melainkan mempertahankan emosi yang telah dibangun oleh lagunya.
Pilihan visualnya juga mendukung pendekatan tersebut. Dominasi warna kekuningan, ruang yang sederhana, dan pengambilan gambar yang tidak berlebihan menciptakan suasana yang cenderung sendu. Menariknya, kesan itu kemudian diimbangi oleh gestur para karakter yang terasa santai, canggung, bahkan sesekali mengundang senyum. Padahal lirik seperti "And I know you never will be mine" atau "Tomorrow you do it without me" berbicara tentang cinta yang tidak sampai. Ketegangan antara lirik yang melankolis dan ekspresi visual yang lebih ringan membuat Cherry tidak terjebak pada melodrama.
Barangkali pendekatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari posisi Tezze yang sekaligus merupakan personel The Skit dan sutradara music video ini. Kedekatan dengan proses kreatif band memungkinkan visual yang dibangun tetap berada dalam semangat lagu. Alih-alih menghadirkan tafsir yang benar-benar baru, Cherry memilih memperluas pengalaman mendengar melalui visual yang tetap berpijak pada liriknya.
Pilihan itu juga selaras dengan pandangan Tezze. Menurutnya karya-karya The Skit tidak perlu dijelaskan secara berlebihan. Lagu dibiarkan terbuka agar pendengar menemukan maknanya sendiri. Dalam konteks tersebut, Cherry tidak terasa sedang membatasi interpretasi. Sebaliknya, visual hanya memberi konteks tambahan tanpa menghilangkan ruang bagi penonton untuk tetap membaca lagu menurut pengalamannya masing-masing.

Mrasuk - Merasuki (2024)
Jika Cherry mempertahankan kedekatan antara lagu dan visual, Merasuki memilih relasi yang berbeda. Dito Ardhi tidak sekadar menerjemahkan lagu ke dalam gambar, tetapi membangun dunia visual yang memiliki logikanya sendiri. Music video ini dipenuhi elemen teatrikal, gerak tubuh yang ekspresif, simbol-simbol, narasi Adam dan Hawa yang tidak hadir secara eksplisit dalam lagu, hingga rapalan doa yang memperkuat nuansa sakral. Seluruh elemen tersebut membuat Merasuki tidak lagi sekadar menjadi visualisasi lagu, melainkan sebuah karya yang mengundang penonton membaca berbagai lapisan makna.
Pilihan tersebut menunjukkan keberanian artistik. Dalam beberapa bagian, Merasuki bahkan terasa seperti sebuah pertunjukan teater yang diiringi musik. Lagu tidak lagi menjadi pusat perhatian, tetapi menjadi elemen yang menghidupkan atmosfer visual. Kehadiran simbol-simbol religius, rapalan doa, dan adegan-adegan teatrikal mempertebal kesan sakral sekaligus absurd, sehingga perhatian penonton bergeser dari menikmati lagu menuju membaca dunia visual yang dibangun sutradara. Pendekatan ini tentu bukan sebuah kekurangan, melainkan konsekuensi dari pilihan estetik yang memberi ruang sangat besar bagi interpretasi visual.
Di sisi lain, gagasan tentang "merasuk" sesungguhnya dapat dieksplorasi melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rasa kehilangan, obsesi, kecemasan, atau relasi antarmanusia juga dapat menjadi bentuk "kerasukan" yang tidak kalah kuat. Karena itu, pilihan menghadirkan narasi Adam dan Hawa, rapalan doa, dan pendekatan yang sangat teatrikal terasa membawa Merasuki ke wilayah simbolik yang semakin kompleks. Kompleksitas tersebut memang menghasilkan pengalaman visual yang kuat, tetapi pada saat yang sama membuat gagasan "merasuk" terasa semakin jauh dari pengalaman yang akrab dengan keseharian penonton.
Setelah eksplorasi simbolik yang ditawarkan Merasuki, Cup Menengo Sayang membawa penonton kembali pada pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian. Ceritanya sederhana, visual bergerak mengikuti lirik, dan konflik yang dibangun terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari. Music video ini tidak berusaha menghadirkan simbol-simbol yang rumit, melainkan mempertahankan kedekatan antara lagu dan cerita yang ditampilkan.

Potareso - Cup Menengo Sayang (2025)
Yang menarik justru bukan hanya visualnya, melainkan bagaimana genre tampaknya ikut menentukan cara sebuah music video dibangun. Sebagai lagu pop dangdut, karya ini terasa dekat dengan pengalaman masyarakat. Cerita yang diangkat pun berasal dari kehidupan yang akrab sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali dirinya di dalam cerita tersebut.
Pembacaan tersebut juga memperlihatkan bahwa pilihan estetik sebuah music video tidak hanya ditentukan oleh lagunya, tetapi juga oleh cara sutradara menerjemahkannya. Cherry dan Cup Menengo Sayang memilih mempertahankan kedekatan dengan lagu, meskipun berangkat dari genre yang berbeda. Sementara itu, Merasuki memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi eksplorasi visual sehingga penonton diajak membaca simbol-simbol yang lebih kompleks.
Music video sebagai Ruang Negosiasi Budaya
Music video harusnya layak dipahami sebagai praktik sinema, bukan semata produk turunan atau media promosi sebuah lagu. Di balik durasinya yang relatif singkat, music video memperlihatkan bagaimana dua medium yang berbeda saling bernegosiasi. Musik menghadirkan ritme dan emosi, sementara sinema menawarkan ruang visual yang membentuk pengalaman baru. Pertemuan keduanya menunjukkan bahwa sebuah lagu tidak lagi berhenti sebagai sesuatu yang didengar, tetapi juga menjadi sesuatu yang dilihat dan dialami melalui gambar.
Namun, pertemuan tersebut tidak sepenuhnya bebas dari persoalan. Music video selalu berada di antara dua kepentingan yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, visual mampu memperluas pengalaman estetik dan menjangkau audiens yang lebih luas. Di sisi lain, ia juga berpotensi mengarahkan, bahkan membatasi, ruang tafsir yang sebelumnya dimiliki pendengar ketika berhadapan dengan lagu semata. Ketegangan antara kebebasan interpretasi dan representasi visual inilah yang membuat music video menjadi menarik untuk terus dibicarakan.
Perubahan tersebut juga memperlihatkan bagaimana budaya digital perlahan menggeser batas-batas medium. Musik tidak lagi hanya hidup melalui suara, sebagaimana radio yang kini berkembang menjadi podcast video, siaran YouTube, dan berbagai bentuk konten audiovisual. Dalam ekosistem media yang semakin visual, kolaborasi antara musisi dan sineas tampaknya bukan lagi sekadar pilihan artistik, melainkan bagian dari cara sebuah karya dapat bertahan, beredar, dan menemukan audiensnya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi apakah musik membutuhkan visual, melainkan bagaimana visual dapat hadir sebagai ruang dialog, bukan ruang yang mengambil alih. Music video akan selalu berada di antara dua kemungkinan, memperluas pengalaman mendengar atau mengarahkan cara kita memaknainya. Tantangan terbesar para sineas dan musisi barangkali terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan tersebut, sehingga gambar tidak menghapus kebebasan pendengar untuk tetap menemukan maknanya sendiri, tetapi justru membuka kemungkinan baru dalam menikmati sebuah lagu.