Sela

Datang untuk Berpesta, Pulang Membawa Luka: Membaca Kemiskinan di Balik Operasi Pesta Copet

Fatimah Amirah ·
Datang untuk Berpesta, Pulang Membawa Luka: Membaca Kemiskinan di Balik Operasi Pesta Copet

Apakah Operasi Pesta Copet benar-benar sedang berbicara tentang pencopetan, atau sebenarnya tentang orang-orang yang berusaha bertahan hidup ketika kehidupan yang layak terasa semakin sulit?

Pestapora: Festival Musik atau Ruang Pertemuan Kelas Sosial?

Siapa yang tidak mengenal festival musik Pestapora? Festival musik yang bisa dibilang sebagai “Coachella-nya Indonesia” ini telah menjadi semacam budaya lebaran bagi para musisi dan seniman tanah air. Festival yang pertama kali diselenggarakan pada 2022 ini berkembang menjadi sebuah perayaan budaya populer yang sangat dinantikan setiap tahunnya di Jakarta.

Selain menikmati alunan musik, penonton datang untuk merasakan euforia, bersenang-senang, bertemu teman, mengunjungi berbagai booth, dan tentu saja mengabadikan momen melalui media sosial. Sebagai penulis, saya sendiri pernah merasakan euforia festival musik melalui “Latihan Pestapora” yang diselenggarakan di Kota Solo.

Namun, di tengah kerumunan tersebut, ada orang-orang yang tidak datang untuk menikmati pertunjukan. Mereka datang untuk mengambil kesempatan.

Di sinilah Operasi Pesta Copet menempatkan Ijal (Iqbaal Ramadhan), seorang laki-laki yang sejak kecil telah mengalami berbagai persoalan keluarga. Ia dititipkan oleh ibunya yang kemudian menikah lagi dengan pria lain. Di sisi lain, Ijal menyimpan kerinduan terhadap sang ayah yang telah meninggal dan dimakamkan di kampung halaman.

Ijal kecil kemudian tumbuh menjadi Ijal dewasa yang harus mengadu nasib di ibu kota, berhadapan dengan kerasnya kehidupan dan tekanan ekonomi. Pestapora bagi sebagian orang adalah tempat bersenang-senang. Namun bagi Ijal dan kelompoknya, tempat tersebut justru dapat menjadi ruang untuk bertahan hidup.

Dari Bertahan Hidup hingga Menjadi Copet: Kisah Ijal dan Ngambang Gang

Sebelum menjadi pencopet, Ijal memulai kehidupannya sebagai buruh pabrik. Ia juga membantu keluarga Adut (Kristo Immanuel) sebagai badut sekaligus pesulap. Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya setelah menonton film ini: “Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin.” Kalimat tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami motivasi para karakter di dalam film.

Jika orang-orang kaya atau para koruptor dapat menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan, lalu apakah orang-orang kecil seperti Ijal dan Adut tidak boleh bermimpi untuk hidup lebih baik?

Tentu, pertanyaan tersebut tidak serta-merta membenarkan tindakan kriminal. Justru di sinilah film mulai menawarkan persoalan moral yang menarik: ketika seseorang berada dalam kondisi ekonomi yang sulit, sejauh mana keadaan dapat dijadikan alasan atas pilihan-pilihan buruk yang mereka ambil?

Dari situlah muncul ide untuk melakukan ngambang atau mencopet telepon genggam. Awalnya dilakukan di pasar, Ijal, Adut, dan Silet (Fauzan Lubis) menargetkan para pembeli dengan menggabungkan trik sulap dan tipu daya pencopetan. Cara tersebut ternyata berhasil. Hasil dari ngambang kemudian menjadi sumber penghasilan sekaligus memberikan “angin segar” bagi mereka.

Namun film ini tidak hanya menawarkan kriminalitas. Edy Khemod sebagai sutradara juga menyelipkan unsur rom-com melalui kemunculan Tia (Zulfa Maharani), mantan kekasih Ijal. Hubungan mereka mengingatkan saya pada pasangan kriminal dalam film Bonnie and Clyde, meskipun tentu saja dalam versi yang jauh lebih ringan dan komedik. Kemudian hadir Melodi (Kawai Labiba), yang menjadi anggota tambahan dalam kelompok Ngambang Gang.

Pestacopet: Ketika Keramaian Menjadi Kesempatan

Kehadiran Melodi menjadi salah satu pemantik penting dalam cerita. Ia memperkenalkan Pestapora sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok Ngambang Gang untuk meningkatkan hasil “operasi” mereka.

Jika sebelumnya mereka beroperasi di pasar, kali ini medan mereka jauh lebih besar: sebuah festival musik dengan ribuan pengunjung. Pestapora kemudian bukan lagi sekadar tempat untuk menikmati musik. Bagi Ijal dan kawan-kawan, Pestapora adalah “kesempatan dalam kesempitan.”

Pengunjung datang membawa telepon genggam, dompet, tas, dan berbagai barang berharga lainnya. Kerumunan yang bagi penonton biasa merupakan bagian dari euforia festival, bagi para pencopet justru menjadi peluang.

Menariknya, film memperlihatkan bahwa pencopetan tidak selalu dilakukan secara spontan. Ada proses belajar, pengamatan, pembagian peran, strategi, hingga pemilihan target. Dari sini saya justru menemukan satu gagasan menarik: Pestapora menjadi ruang pertemuan berbagai kelas sosial.

Bagi penonton, Pestapora adalah ruang konsumsi budaya: membeli tiket, menikmati musik, membeli makanan, mengunjungi booth, dan mengunggah pengalaman ke media sosial. Bagi Ijal dan kelompoknya, tempat yang sama memiliki makna berbeda. Pestapora adalah ruang ekonomi alternative, meskipun illegal, untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup. Satu ruang, tetapi dua pengalaman sosial yang berbeda.

Humor, Kemiskinan, dan Satire: Menertawakan Apa yang Sebenarnya Tragis?

Kalau film ini dijadikan tren di TikTok, mungkin sound “Mama, I'm a criminal~” cukup menggambarkan perjalanan Ijal dan kelompoknya. Oke, mari kita sedikit lebih serius. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah komedi membuat persoalan kemiskinan terasa lebih dekat dan manusiawi, atau justru membuat persoalan tersebut terasa terlalu ringan?

Menurut saya, Operasi Pesta Copet cukup berhasil menggunakan humor untuk membuat isu yang sebenarnya serius menjadi lebih mudah diterima oleh penonton. Dialog antarkarakter terasa ringan dan relatable. Beberapa dialog bahkan terasa seperti cerminan kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa kasar, misalnya kata “anjing”, juga menjadi sumber humor melalui karakter Melodi yang bahkan kesulitan membedakan “anjing positif” dan “anjing negatif”. Penonton tertawa.

Namun di balik tawa tersebut terdapat persoalan yang sebenarnya cukup serius: kemiskinan, konflik keluarga, ketimpangan sosial, dan keterbatasan kesempatan. Dengan demikian, humor dalam film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Humor juga menjadi strategi untuk membuat persoalan sosial yang berat terasa lebih dekat dengan penonton. Film seolah-olah mengajak kita tertawa, tetapi setelah tawa tersebut selesai, ada pertanyaan yang tertinggal:

Mengapa seseorang harus mencopet agar dapat bertahan hidup?

Perempuan di Balik Operasi Pesta Copet Meskipun cerita berpusat pada Ijal dan kelompok Ngambang Gang, karakter perempuan dalam film ini juga memiliki latar belakang yang menarik untuk dibahas. Tia, misalnya, bukan sekadar mantan kekasih Ijal yang hadir sebagai pemanis cerita. Ia juga digambarkan sebagai perempuan yang berusaha bertahan hidup. Ia bahkan rela menjual motor milik ayahnya dan memilih membantu berjualan bakso serta mi ayam demi melanjutkan kehidupan.

Tia digambarkan sebagai perempuan sederhana yang ingin dicintai sekaligus mendapatkan kejelasan dari Ijal. Di sini, feminine intuition Tia juga cukup kuat. Ia mampu membaca gelagat Silet yang bergabung dengan kelompok Operasi Pesta Copet. Kecurigaannya kemudian terbukti dan berujung pada hilangnya kepercayaan Ijal terhadap kelompoknya.

Di sisi lain, terdapat Melodi, sepupu Ijal yang tumbuh besar bersamanya. Melodi merupakan karakter yang periang, tetapi di balik keceriaannya terdapat persoalan keluarga. Ia mengalami trauma akibat pertengkaran kedua orang tuanya. Ironisnya, konflik tersebut kemudian kembali muncul ketika kelompok Ijal mulai mengalami perpecahan.

Jangan remehkan Melodi hanya karena ia masih anak-anak. Justru ide “Operasi Pesta Copet” yang muncul darinya menjadi salah satu penggerak penting cerita. Tanpa ide Melodi, mungkin perjalanan kelompok ini tidak akan berkembang sejauh itu. Kemudian ada Ibu Ijal (Yeyen Lidya) dan Mila (Myesha Lin), dua karakter yang memperlihatkan sisi lain dari hubungan keluarga Ijal.

Ibunya dahulu menitipkan Ijal demi memberikan kehidupan yang lebih baik, sekaligus mencoba melanjutkan hidup setelah menjadi janda. Namun ketika mereka bertemu kembali, situasinya justru semakin rumit.Ibu Ijal terlilit utang pinjaman online dan kemudian divonis mengidap penyakit serius. Mila, adik Ijal yang masih belia, juga menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Pada titik ini, ego Ijal akhirnya runtuh. Bagaimana mungkin seorang anak membiarkan ibunya menghadapi kematian sementara adiknya berpotensi tumbuh dengan kehidupan yang sama kerasnya seperti dirinya? Keluarga kemudian menjadi alasan utama mengapa Ijal terus bertahan.

Antara Pilihan Personal dan Kegagalan Sistem

Sampai sekitar 80 persen film, saya sempat berpikir: “Kan Ijal juga terpaksa melakukan tindakan kriminal demi kehidupan yang layak. Memangnya dia tidak boleh hidup lebih baik?” Kemudian muncul pemikiran lain: “Ya, pemerintah saja yang gagal. Mengapa kita terus yang disalahkan?”

Itu mungkin reaksi saya setelah menonton sebagian besar film ini sebelum sampai pada ending. Namun, film ini pada akhirnya mengingatkan saya pada satu hal penting: memahami alasan seseorang melakukan kejahatan tidak sama dengan membenarkan kejahatan tersebut. Kemiskinan dapat menjelaskan mengapa seseorang melakukan kriminalitas, tetapi tidak otomatis membuat tindakan tersebut menjadi benar. Di sinilah film sebenarnya membuka ruang refleksi yang menarik.

Kita dapat mempertanyakan sistem ekonomi, ketimpangan sosial, kesempatan kerja, bahkan kegagalan negara dalam menyediakan kehidupan yang layak. Tetapi pada saat yang sama, tanggung jawab moral individu tetap ada. Dengan kata lain, Operasi Pesta Copet tidak harus dibaca sebagai cerita yang mengatakan bahwa “orang miskin boleh mencopet”. Film ini justru dapat dibaca sebagai pertanyaan yang lebih besar:

Apa yang terjadi ketika sistem membuat jalan hidup yang benar terasa semakin sulit ditempuh? Dan bagi saya, persoalan tersebut jauh lebih menarik daripada sekadar pertanyaan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Jadi, Siapa yang Salah?

Mungkin tidak ada jawaban sederhana. Ijal memang melakukan tindakan kriminal. Adut, Silet, dan anggota kelompok lainnya juga memiliki pilihan-pilihan yang secara moral problematis. Namun mereka juga hidup dalam kondisi yang tidak ideal. Keluarga yang berantakan, kemiskinan, keterbatasan kesempatan, tekanan ekonomi, dan kebutuhan untuk bertahan hidup menjadi faktor yang membentuk pilihan mereka.

Tetapi sekali lagi, memahami konteks bukan berarti melakukan pembenaran. Sebagai penonton, kita tetap dapat mengatakan bahwa tindakan kriminal adalah sesuatu yang salah. Dalam perspektif moral dan agama yang saya yakini, selalu ada jalan untuk kembali dan memperbaiki diri.

Karena itu, saya justru melihat ending film ini sebagai bagian penting dalam menyampaikan pesan tersebut: seburuk apa pun pilihan seseorang, masih ada kemungkinan untuk berubah. Pada akhirnya, kita tetap harus mencari jalan hidup yang baik dan halal. Jangan sampai kesulitan hidup membuat kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang normal.

Kesimpulan: Ketika Kejahatan Lahir dari Kesempitan

Operasi Pesta Copet bagi saya bukan sekadar film tentang sekelompok pencopet yang beroperasi di festival musik. Film ini mempertemukan beberapa persoalan sekaligus: kemiskinan, keluarga, persahabatan, ketimpangan sosial, kriminalitas, dan budaya populer.

Pestapora menjadi simbol yang menarik. Bagi sebagian orang, ia adalah ruang hiburan dan perayaan. Namun bagi Ijal dan kelompoknya, tempat tersebut berubah menjadi ruang untuk mencari penghidupan. Dari sinilah saya melihat kekuatan film ini: satu ruang dapat memiliki makna yang berbeda bagi orang-orang dari kelas sosial yang berbeda.

Film juga berhasil menggunakan komedi untuk membicarakan persoalan serius tanpa membuatnya sepenuhnya terasa seperti kuliah tentang kemiskinan. Humor, persahabatan, dan drama keluarga membuat karakter-karakternya terasa lebih manusiawi.

Sebagai penulis kritik film pemula, saya tentu masih banyak belajar. Saya menyadari tulisan ini masih memiliki banyak celah yang dapat dikembangkan, terutama dalam membedah aspek sinematik, struktur naratif, serta posisi film terhadap persoalan sosial yang diangkat.

Namun, secara keseluruhan, Operasi Pesta Copet menurut saya adalah film yang so far, so good. Film ini menghibur, tetapi juga memberikan cukup banyak ruang untuk bertanya. Apakah pencopetan dalam film ini hanya tentang kejahatan, atau tentang manusia yang berusaha mencari jalan keluar ketika hidup layak terasa semakin sulit?

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!

Dari Rubrik yang Sama

Setelah Sampah Terangkut, Siapa yang Kita Lihat? Menyiasati Keterbatasan dengan Gerobak Djumadi
Sela

Setelah Sampah Terangkut, Siapa yang Kita Lihat? Menyiasati Keterbatasan dengan Gerobak Djumadi

Ada pekerjaan yang keberadaannya sangat dibutuhkan, tetapi orang-orang yang melakukannya belum tentu mendapatkan penghargaan yang sepadan. Kita membutuhkan lingkungan yang bersih, sampah yang terangkut, dan kehidupan masyarakat yang berjalan sebagaimana mestinya. Namun, dalam keseharian, perhatian kita sering berhenti pada hasil akhirnya: lingkungan yang bersih. Kita jarang memikirkan siapa yang bekerja di balik kebersihan itu, bagaimana mereka menjalani pekerjaannya, dan apa yang harus mereka tanggung untuk terus bertahan hidup. ...

Armada Fatkhur Syarif 18 Oct 2026
Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja: Jadi, Siapa yang Sebenarnya Gila?
Sela

Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja: Jadi, Siapa yang Sebenarnya Gila?

Sebagai seseorang yang hidup dengan pengalaman mental illness, setiap bulan datang untuk kontrol, dan pernah memiliki pengalaman mengantar anggota keluarga untuk dirawat di rumah sakit jiwa, saya punya hubungan yang cukup dekat dengan ruang yang sering kita sebut sebagai “tempat orang gila”. Saya pernah menginap di rumah sakit jiwa. Saya melihat pasien-pasiennya dari dekat, mengamati mereka, berbicara dengan mereka, melihat bagaimana mereka diperlakukan, dan bagaimana orang-orang di luar sana membicarakan mereka. Mungkin karena itu, ketika menonton ...

Yasmin Hasna Dzakiyyah 22 Sep 2026
Obsession (2026), Apa Itu Cinta?
Sela

Obsession (2026), Apa Itu Cinta?

Sebagai seseorang yang masih sering memikirkan apa arti dari sebuah relationship atau cara kita mencintai, Obsession (2026) terasa seperti peringatan yang mungkin cukup mengusik pikiran. Film ini seperti membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya cinta itu seperti apa? Apakah cinta yang selama ini kita yakini adalah “cinta” yang sebenarnya? Atau jangan-jangan ego ingin memiliki? ...

Sulthona Imam Samudra 30 Aug 2026
Jazz di Atas Rock? Membaca Satu Quote Buddy Rich dalam Film Whiplash (2014)
Sela

Jazz di Atas Rock? Membaca Satu Quote Buddy Rich dalam Film Whiplash (2014)

Sebagai konsumen maniac di dunia permusikan dan juga penikmat perfilman, saya sangat tertarik untuk membahas film Whiplash (2014) yang bercerita tentang ambisi seorang Andrew Neiman untuk menjadi greatness drummer. Yang menjadi spotlight pembahasan tulisan ini adalah detail kecil dalam kamar Andrew yang memperlihatkan poster berisikan ...

Shinreino Mohammed 22 Aug 2026