Sebagai seseorang yang masih sering memikirkan apa arti dari sebuah relationship atau cara kita mencintai, Obsession (2026) terasa seperti peringatan yang mungkin cukup mengusik pikiran. Film ini seperti membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya cinta itu seperti apa? Apakah cinta yang selama ini kita yakini adalah “cinta” yang sebenarnya? Atau jangan-jangan ego ingin memiliki?
Film Garapan Curry Barker ini secara perlahan merobek persepsi romantis tentang sebuah relationship atau cara kita mencintai. Sekilas, batas antara mencintai dan menginginkan sering kali terlihat kabur. Kita mungkin terbiasa percaya bahwa memperjuangkan seseorang hingga titik darah penghabisan adalah bukti cinta tertinggi. Padahal, ada sekatan sangat tipis yang memisahkan antara kasih sayang dan juga obsesi.
Ketika seseorang benar-benar mencintai, fokus utamanya adalah kebahagiaan sosok yang dicintai atau mungkin sebaliknya. Namun, obsesi bekerja dengan logika yang sangat egois. Ia berpusat pada rasa takut akan kehilangan dan kepuasan diri sendiri. Dalam film ini, dorongan untuk mengejar “cinta” tidak lagi didasari oleh ketulusan, melainkan ketakutan sang tokoh utama jika dunianya runtuh tanpa kehadiran orang tersebut. Pasangannya bukan lagi dipandang sebagai manusia yang utuh, melainkan simbol kemenangan yang harus digenggam demi memvalidasi perasaannya sendiri.
Di titik ini, Obsession tidak hanya menunjukkan seseorang yang terobsesi terhadap pasangannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana obsesi tersebut dapat tumbuh dari sesuatu yang awalnya terlihat sangat manusiawi. Rasa takut kehilangan, rasa tidak cukup, dan keinginan untuk dicintai adalah perasaan yang mungkin setidaknya pernah dirasakan oleh seseorang. Masalah yang sebenarnya muncul ketika perasaan tersebut mulai mengendalikan seseorang
Yang membuat konflik emosional ini begitu menakutkan adalah bagaimana pelaku obsesi tidak pernah merasa dirinya salah. Dalam pikirannya, setiap tindakan posesif, setiap dorongan untuk memiliki, dan setiap manipulasi dibungkus rapi atas nama cinta atau bukti kesetiaan. Ia mungkin merasa sedang berkorban, padahal tanpa disadari, pengorbanan tersebut justru dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Tak banyak juga manusia di real life ini yang menganggap sikap posesif terhadap pasangan adalah bukti bahwa dia mencintai pasangan tersebut. Ia merasa sedang menjadi “pejuang” cinta, padahal mungkin yang sebenarnya ia lakukan adalah memaksakan orang lain ke dalam ekspektasi atau egonya sendiri. Cemburu dianggap sebagai tanda kepedulian, mengontrol dianggap sebagai bentuk perhatian, dan takut kehilangan dianggap sebagai bukti bahwa perasaan tersebut begitu dalam.
Padahal, mencintai seseorang seharusnya juga berarti memberikan ruang bagi orang tersebut untuk menjadi dirinya sendiri. Kita tidak benar-benar mencintai seseorang jika kita hanya mencintai versi dirinya yang sesuai dengan keinginan kita. Sebab, ketika cinta menuntut seseorang untuk berubah agar memenuhi ekspektasi kita, mungkin yang sedang kita cintai bukan lagi orang tersebut, melainkan gambaran tentang dirinya yang kita ciptakan sendiri.
Cinta seharusnya memberi rasa aman, nyaman dan kebahagiaan. Namun, ketika cinta berubah menjadi obsesi, ia mengikis empati dan menyisakan keinginan untuk menguasai. Pada akhirnya, hubungan tersebut tidak lagi dibangun oleh dua orang yang saling memilih, melainkan oleh satu orang yang terus berusaha memastikan bahwa orang lain tidak memiliki pilihan untuk pergi.
Hal yang paling mengganggu dari film ini justru bukan ketika semuanya mulai berubah menjadi horor. Yang Paling mengganggu justru ketika kita menyadari bahwa sebagian perilaku yang ditampilkan sebenarnya tidak terlalu asing dalam kehidupan sehari-hari. Horor supernatural dalam film mungkin terasa jauh dari realitas, tetapi akar dari perilakunya terasa sangat dekat. Kita bisa menemukan bentuk-bentuk kecil dari obsesi dalam hubungan manusia seperti keinginan untuk selalu mengetahui keberadaan pasangan, ketakutan berlebihan ketika tidak mendapatkan balasan pesan, atau anggapan bahwa pasangan memiliki kewajiban untuk selalu memenuhi kebutuhan emosional kita.
Lewat alur yang pelan tapi menekan, karya Curry Barker ini menghadirkan cermin yang cukup pahit tentang realitas relationship. Film ini memperlihatkan secara langsung bahwa cinta juga bisa berubah menjadi “penyakit” ketika digantikan menjadi obsesi. Semakin seseorang takut kehilangan, semakin besar pula keinginannya untuk menggenggam. Namun semakin kuat ia menggenggam, semakin kecil pula ruang yang tersisa bagi cinta untuk bernapas.
Mungkin itulah hal paling menarik dari film Obsession. Film ini tidak hanya mengajak kita bertanya tentang bagaimana seseorang mencintai orang lain, tetapi juga memaksa kita melihat ke dalam diri sendiri. Apakah selama ini kita mencintai seseorang karena benar-benar menginginkan kebahagiaannya? Atau kita hanya mencintai perasaan yang muncul ketika seseorang memilih untuk tetap berada di sisi kita?
Kesimpulanya, kita tidak tahu, apakah kita benar-benar sedang mencintainya, atau jangan-jangan selama ini kita hanya sedang memeluk obsesi kita sendiri?