Ada pekerjaan yang keberadaannya sangat dibutuhkan, tetapi orang-orang yang melakukannya belum tentu mendapatkan penghargaan yang sepadan. Kita membutuhkan lingkungan yang bersih, sampah yang terangkut, dan kehidupan masyarakat yang berjalan sebagaimana mestinya. Namun, dalam keseharian, perhatian kita sering berhenti pada hasil akhirnya: lingkungan yang bersih. Kita jarang memikirkan siapa yang bekerja di balik kebersihan itu, bagaimana mereka menjalani pekerjaannya, dan apa yang harus mereka tanggung untuk terus bertahan hidup.
Film DJUM ini membuka ruang bagi kita untuk melihat persoalan tersebut melalui kehidupan Pak Djum, seorang pekerja pengangkut sampah. Bagi saya, film ini tidak hanya memperkenalkan seseorang yang menjalani pekerjaan berat, tetapi juga mengajak kita mempertanyakan cara masyarakat memandang pekerjaan, menentukan nilai seseorang, dan memberikan penghargaan kepada mereka yang menopang kehidupan bersama.
Mengapa pekerjaan yang begitu penting bagi kehidupan masyarakat justru dapat membuat orang yang menjalaninya kurang mendapatkan penghargaan yang sepadan? Pertanyaan itu menjadi titik awal saya setelah menonton film ini.
Salah satu hal yang menarik dari DJUM adalah cara film ini memperlihatkan kehidupan Pak Djum tanpa harus terus-menerus menempatkannya dalam suasana yang menyedihkan. Ia tetap tampil santai dan humoris di tengah kehidupannya sebagai pekerja pengangkut sampah. Pilihan ini membuat saya berpikir bahwa perjuangan seseorang tidak selalu harus diperlihatkan melalui tangisan, keluhan, atau ekspresi kesedihan agar dapat dipahami. Ada kalanya, beratnya kehidupan justru terlihat melalui percakapan sederhana dan kebiasaan sehari-hari yang sekilas tampak biasa.
Namun, sikap santai seseorang tidak serta-merta menunjukkan bahwa kehidupannya berjalan tanpa beban. Kita sering kali menilai keadaan orang lain berdasarkan apa yang terlihat di hadapan kita, padahal apa yang tampak belum tentu mewakili keseluruhan pengalaman hidupnya. Dalam konteks ini, memahami Pak Djum tidak cukup hanya dengan memperhatikan bagaimana ia bekerja atau berinteraksi dengan orang lain. Kita juga perlu memperhatikan hal-hal kecil yang muncul dalam film, karena melalui hal-hal tersebut, kita dapat melihat bagaimana ia menghadapi kelelahan dan menjalani tanggung jawabnya.
Salah satu adegan yang membuat saya memikirkan hal tersebut adalah ketika istri Pak Djum, yang sedang mengalami stroke, sedang berlatih berjalan dan tampak mudah menyerah. Dalam situasi itu, Pak Djum mengatakan: “Koyo aku ki lho, kesel tak tahan, walaupun kesel tetep loss, kerjane abot.”
Secara kontekstual, ucapan tersebut dapat dipahami sebagai ungkapan bahwa dirinya juga merasa lelah, tetapi tetap menjalani pekerjaannya meskipun pekerjaan itu berat. Bagi saya, ucapan tersebut memperlihatkan sisi lain dari sosok Pak Djum. Di balik sikapnya yang santai, ia tetap menyadari beratnya pekerjaan yang dijalani. Kelelahan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang membuatnya harus terus-menerus mengeluh, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang tetap harus ia hadapi. Namun, justru di sinilah muncul pertanyaan yang lebih jauh: ketika seseorang terbiasa menahan lelah dan terus bekerja, apakah kita kemudian terlalu mudah menganggap ketangguhan itu sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan?
Saya tidak melihat adegan ini semata-mata sebagai perbandingan antara Pak Djum dan istrinya. Bagi saya, yang lebih menarik adalah bagaimana percakapan sederhana tersebut membuka ruang untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara dan batas yang berbeda dalam menghadapi kesulitan. Pada saat yang sama, ucapan Pak Djum membawa perhatian kita kembali pada beratnya pekerjaan yang ia jalani. Ia mampu bertahan, tetapi kemampuannya bertahan tidak seharusnya membuat kita berhenti mempertanyakan kondisi yang mengharuskannya terus bekerja meskipun lelah.
Ada salah satu adegan yang dimana pak Djum mengeluarkan sambatan-sambatan dengan temannya yang juga membekas dalam pikiran saya: “Mbiyen ngepenakne yo, sak iki dipenakke.” Ketika mendengar kalimat itu, saya teringat pada kehidupan Pak Djum bersama istrinya. Saya membayangkan bahwa mungkin dahulu mereka dapat menikmati kehidupan bersama dengan lebih mudah, sementara sekarang keadaan telah berubah setelah istrinya mengalami stroke.
Saya tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup Pak Djum dan istrinya. Namun, dari percakapan dan adegan yang diperlihatkan dalam film, saya menangkap sebuah refleksi tentang bagaimana kehidupan dapat berubah seiring waktu. Ada masa ketika kebahagiaan mungkin terasa lebih mudah untuk dinikmati bersama. Ada pula masa ketika kebahagiaan hadir dalam bentuk yang berbeda, melalui perhatian, kesabaran, dan usaha untuk tetap mendampingi pasangan ketika keadaan tidak lagi mudah.
Bagi saya, bagian ini membuat Pak Djum terlihat bukan hanya sebagai pekerja yang berjuang mencari nafkah, tetapi juga sebagai seorang suami yang menjalani perubahan dalam kehidupan rumah tangganya. Perjuangannya tidak berhenti ketika ia selesai bekerja. Ada kehidupan lain yang menunggunya di rumah, ada istri yang sedang berjuang untuk pulih, dan ada tanggung jawab yang tetap harus dijalani meskipun dirinya sendiri merasa lelah.
Dari sini, saya mulai menyadari bahwa pekerjaan seseorang mungkin hanya memperlihatkan satu bagian dari kehidupannya. Kita melihat Pak Djum sebagai pengangkut sampah, seseorang yang bekerja dengan tenaga dan menghadapi kelelahan setiap hari. Namun, kehidupannya tidak berhenti pada pekerjaan itu. Ia memiliki keluarga, harapan, dan persoalan yang mungkin tidak diketahui oleh orang-orang yang hanya melihatnya saat bekerja.
Kehidupan Pak Djum pun tidak hanya berkaitan dengan pekerjaannya. Ia memiliki tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Film memperlihatkan kondisi istrinya yang sedang sakit, sementara Pak Djum juga telah membiayai pendidikan anaknya hingga lulus kuliah. Hal ini memperluas cara kita memandang dirinya. Ia bukan sekadar pekerja pengangkut sampah yang menjalankan tugas sehari-hari, melainkan seseorang yang berusaha memenuhi tanggung jawab keluarga di tengah tuntutan pekerjaannya.
Dari sini, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana Pak Djum mampu bertahan. Kita juga perlu bertanya: bagaimana pekerja dengan tanggung jawab serupa memperoleh kesempatan untuk hidup secara layak? Bagaimana kebutuhan kesehatan, pendidikan keluarga, dan keberlangsungan pekerjaan mereka dapat terpenuhi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa dukungan sosial atau pemerintah tidak tersedia. Namun, pertanyaan itu penting untuk membuka pembicaraan mengenai perlindungan dan penghargaan yang semestinya diterima pekerja. Sebab, mengakui bahwa seseorang mampu bertahan hidup tidak sama dengan memastikan bahwa kondisi yang harus dihadapinya sudah adil.
Persoalan solidaritas juga menarik untuk diperhatikan. Dalam film, Pak Djum ngendika pernah memiliki tujuh gerobak dan kemudian memberikan lima di antaranya kepada orang-orang yang membutuhkan. Tindakan ini dapat dibaca sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas yang tumbuh dari pengalaman hidup. Ia tidak hanya menjalani pekerjaannya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang lain untuk bekerja.
Bagi saya, tindakan tersebut mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar memberikan gerobak. Ada kemungkinan bahwa orang-orang yang mengalami kesulitan serupa justru memahami kebutuhan satu sama lain karena mereka berhadapan dengan kenyataan hidup yang berdekatan. Solidaritas menjadi cara untuk saling membantu ketika seseorang membutuhkan sarana untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saya tidak melihat solidaritas Pak Djum sebagai sesuatu yang perlu dikritik. Sebaliknya, tindakannya menunjukkan nilai kemanusiaan yang penting. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah kebaikan personal harus menjadi satu-satunya jalan bagi orang lain untuk mendapatkan kesempatan bekerja. Solidaritas antarmanusia patut dipertahankan, tetapi kebutuhan dasar pekerja juga layak dipikirkan melalui dukungan yang lebih terstruktur.
Pada titik ini, saya mulai melihat bahwa persoalan dalam DJUM tidak hanya terletak pada beratnya pekerjaan seseorang, tetapi juga pada cara kita memahami pekerjaan itu. Kita menikmati lingkungan yang bersih, tetapi belum tentu memberikan perhatian yang sama kepada orang-orang yang menjaga kebersihan tersebut.
Pekerjaan tertentu sering kali dipandang rendah bukan karena tidak memiliki manfaat, melainkan karena masyarakat membangun ukuran penghargaan berdasarkan status, pendapatan, pendidikan, atau citra pekerjaan. Akibatnya, pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi dapat luput dari perhatian, meskipun keberadaannya sangat penting bagi kehidupan bersama.
Pak Djum mengangkut sampah sebagai bagian dari pekerjaannya. Akan tetapi, melalui kehidupannya, kita dapat melihat persoalan lain yang perlu ikut diangkat ke permukaan: kecenderungan menilai pekerjaan berdasarkan status sosial, bukan berdasarkan manfaatnya bagi kehidupan bersama. Kita melihat sampah terangkut, lalu melanjutkan aktivitas. Kita menikmati lingkungan yang bersih, tetapi jarang berhenti untuk memikirkan manusia yang bekerja di baliknya.
Film dokumenter juga memiliki keterbatasan. Apa yang kita ketahui tentang Pak Djum tetaplah pengalaman yang diperlihatkan melalui pilihan adegan, percakapan, dan sudut pandang pembuat film. Film tidak dapat memuat seluruh kehidupan seseorang. Karena itu, menonton dokumenter berarti mengenal sebagian kehidupan seseorang, bukan menguasai seluruh kisahnya.
Ada satu hal lain yang kemudian saya pikirkan setelah mencoba memahami kehidupan Pak Djum melalui film ini: Bagaimana jika sutradara tidak pernah terfikirkan, bahkan membuat DJUM? Mungkin kita tetap akan mengenal pekerjaan pengangkut sampah. Kita mungkin juga akan melihat Pak Djum sebagai seseorang yang pekerja keras. Namun, apakah kita akan mengetahui hal-hal yang membentuk perjuangannya sampai sejauh itu?
Mungkin kita tidak akan mengetahui tanggung jawab keluarga yang ia jalani, rasa lelah yang tetap ia tahan, perubahan kehidupan yang ia hadapi bersama istrinya, atau kepeduliannya terhadap orang lain melalui gerobak-gerobak yang ia berikan kepada mereka yang membutuhkan.
Pertanyaan ini membuat saya menyadari bahwa ada perbedaan antara melihat seseorang dan benar-benar berusaha memahami kehidupannya. Sebelum mengenal kisah Pak Djum melalui film, kita mungkin hanya melihat pekerjaannya sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Sampah terangkut, lingkungan menjadi bersih, lalu kehidupan berjalan seperti biasa. Kita melihat hasil pekerjaannya, tetapi belum tentu memikirkan manusia yang berada di baliknya.
Melalui film ini, sutradara memberikan ruang bagi penonton untuk melihat lebih dekat kehidupan yang mungkin sebelumnya luput dari perhatian. Namun, pentingnya film ini bukan karena Pak Djum baru memiliki arti setelah kisahnya direkam. Ia sudah memiliki kehidupan, tanggung jawab, dan martabat sebelum kamera datang. Film ini membantu kita mengenalnya, tetapi martabatnya tidak bergantung pada apakah kisahnya diketahui oleh banyak orang.