Sebagai seseorang yang hidup dengan pengalaman mental illness, setiap bulan datang untuk kontrol, dan pernah memiliki pengalaman mengantar anggota keluarga untuk dirawat di rumah sakit jiwa, saya punya hubungan yang cukup dekat dengan ruang yang sering kita sebut sebagai “tempat orang gila”. Saya pernah menginap di rumah sakit jiwa. Saya melihat pasien-pasiennya dari dekat, mengamati mereka, berbicara dengan mereka, melihat bagaimana mereka diperlakukan, dan bagaimana orang-orang di luar sana membicarakan mereka. Mungkin karena itu, ketika menonton Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja karya Mas Dito, ada banyak hal yang terasa sangat personal.
Film ini tidak hanya membuat saya berpikir tentang Bibit, tokoh ODGJ yang menjadi pusat cerita. Film ini juga membuat saya mempertanyakan kembali sesuatu yang selama ini terasa begitu sederhana: sebenarnya siapa yang menentukan seseorang itu gila? Dan lsebih jauh lagi, apa yang membuat sesuatu dianggap normal?
Dari Rumah Sakit Jiwa ke Angkringan
Menariknya, gagasan film ini sendiri tidak muncul begitu saja dari ruang diskusi atau teori tentang kesehatan mental. Sebelum membuat film, Mas Dito pernah membantu Dinas Sosial meng-update data ODGJ di berbagai wilayah di Jawa. Dari situ, ia berhadapan dengan kenyataan tentang betapa banyaknya orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental di sekitar kita.
Tetapi ide Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja justru menemukan bentuknya dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: angkringan. Dari tempat makan yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah tempat untuk makan, nongkrong, atau menghabiskan malam, Mas Dito melihat berbagai macam manusia dan perilaku yang hidup berdampingan. Ada orang yang bermain judi online, ada yang menggunakan jasa LC, ada perselingkuhan, eksploitasi seksual, dan berbagai perilaku yang secara moral problematik. Namun semuanya berlangsung seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak ada musik horor yang tiba-tiba berbunyi. Tidak ada tanda yang mengatakan, “Perhatian, ini adalah perilaku menyimpang.” Semuanya berjalan biasa saja. Dan mungkin justru dari situlah pertanyaannya muncul: mengapa hal-hal tertentu yang sebenarnya absurd atau problematik bisa terasa begitu biasa? Pertanyaan tersebut kemudian menemukan bentuknya melalui Bibit.
Bibit dan Orang-Orang yang Dianggap Normal
Kita mengikuti kisah Bibit dan dunianya. Bibit adalah seorang ODGJ yang dalam kesehariannya justru menjadi bahan bercandaan warga sekitar. Ia berbeda. Cara berpikirnya berbeda, perilakunya berbeda, dan ia tidak selalu mengikuti apa yang dianggap sebagai perilaku normal oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, kita dengan mudah menerima satu hal sejak awal: Bibit adalah orang gila.
Tetapi film kemudian mengajak kita melihat siapa saja yang hidup di sekitar Bibit. Para pemuda bermain judi. Para bapak bermain perempuan. Perempuan menjadikan seksualitas sebagai konten. Berbagai perilaku yang secara moral problematik berlangsung sebagai bagian dari keseharian.
Di sinilah saya mulai merasa terganggu. Bukan karena film ini menunjukkan orang-orang yang melakukan hal buruk, tetapi karena film membuat saya bertanya: kenapa kita tidak memberikan label yang sama kepada mereka? Kenapa Bibit yang langsung ditempatkan sebagai “gila”, sementara orang-orang di sekitarnya tetap dianggap sebagai masyarakat yang normal?
Apa yang sebenarnya membuat seseorang terlihat gila? Apakah karena perilakunya berbeda? Karena cara berpikirnya tidak sesuai dengan mayoritas? Karena ia tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma sosial? Atau karena ada orang lain yang memiliki kuasa untuk mengatakan: “Ini normal. Ini tidak.”
Pertanyaan terakhir ini mengingatkan saya pada pemikiran Michel Foucault mengenai bagaimana masyarakat membentuk kategori normal dan abnormal. Kegilaan tidak hanya berkaitan dengan kondisi individu, tetapi juga dengan bagaimana masyarakat menciptakan batas tentang apa yang dianggap masuk akal, rasional, dan dapat diterima. Dengan kata lain, mungkin pertanyaannya bukan hanya: “Siapa yang gila?” tetapi juga: “Siapa yang punya kuasa untuk mengatakan seseorang gila?”
Ketika yang Gila Mulai Terlihat Biasa
Kalau kita lepaskan Bibit dari frame untuk sementara, kita mulai melihat sesuatu yang lain. Masyarakat di sekitar Bibit tidak benar-benar hidup dalam dunia yang lebih “waras”. Mereka hanya hidup dalam dunia yang perilakunya sudah dinormalisasi.
Dan menurut saya, ini adalah salah satu hal paling menarik dari film ini. Sesuatu bisa menjadi normal bukan karena sesuatu itu baik. Sesuatu bisa menjadi normal karena sesuatu itu terus dilakukan sampai kita berhenti mempertanyakannya.
Judi yang dilakukan terus-menerus akhirnya menjadi bagian dari nongkrong. Perselingkuhan menjadi bahan cerita. Eksploitasi tubuh menjadi pekerjaan. Perilaku seksual menjadi tontonan. Semuanya menjadi bagian dari rutinitas, sampai akhirnya kita tidak lagi bertanya apakah semua itu masuk akal.
Dalam titik ini, judul film menjadi semakin menarik: Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja. Salah satu pertanyaan yang muncul dalam diskusi setelah pemutaran bahkan mempertanyakan judul tersebut. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “biasa saja”? Bagi sebagian orang, hal-hal yang ditampilkan dalam film ini jelas bukan sesuatu yang biasa. Dan ketika pertanyaan itu disampaikan kepada Mas Dito, ia justru tertawa. Saya rasa, mungkin justru itu pertanyaan yang selama ini ia tunggu.
Karena permainan judulnya memang ada di sana. Film ini tidak hanya sedang menunjukkan hal-hal gila. Film ini sedang mempertanyakan mengapa kita menganggapnya biasa. Dan mungkin orang yang berkata, “Ah, itu kan biasa,” justru yang perlu kita pertanyakan.
Kalau Semua Orang Melakukannya, Apa Berarti Itu Waras?
Di titik ini, film terasa lebih luas daripada sekadar cerita tentang kesehatan mental. Ia menjadi kritik terhadap lingkungan sosial tempat manusia hidup. Kita bisa bertanya, mengapa judi menjadi bagian dari kehidupan anak muda di sana? Mengapa relasi seksual dan perselingkuhan terasa begitu biasa? Mengapa tubuh perempuan dapat menjadi sesuatu yang dijual dan dikonsumsi? Dan apa yang membuat perilaku-perilaku tersebut terus direproduksi?
Perspektif Marxis dapat menjadi salah satu kacamata untuk membaca bagian ini. Manusia tidak pernah hidup di ruang kosong. Pilihan seseorang juga dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, kelas, pekerjaan, dan struktur yang ada di sekitarnya. Namun film ini juga tidak harus memberikan jawaban sederhana seperti, “kemiskinan menyebabkan moralitas buruk.”
Justru kekuatannya ada pada pertanyaan yang dibiarkan terbuka: kondisi seperti apa yang membuat perilaku tertentu terus direproduksi sampai akhirnya terasa normal? Karena ketika sesuatu sudah menjadi bagian dari keseharian, kita sering kali berhenti melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Ketika Bibit Menjadi Korban
Kemudian film membawa kita ke sesuatu yang jauh lebih serius. Dewi, seorang konten kreator dewasa, melakukan sexual abuse terhadap Bibit. Adegan ini membuat pertanyaan tentang kegilaan menjadi jauh lebih rumit.
Sebab Bibit bukan hanya seorang laki-laki. Ia adalah ODGJ. Ia sudah ditempatkan sebagai bahan bercandaan. Ia tidak sepenuhnya dipercaya. Ia bahkan tidak memiliki posisi sosial yang kuat di dalam lingkungan tempat ia hidup.
Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman: kenapa kekerasan yang dialami Bibit terasa begitu mudah untuk diabaikan? Kalau seseorang sudah ditempatkan sebagai orang yang tidak sepenuhnya dipercaya, apakah pengalaman kekerasan yang ia alami juga menjadi lebih mudah dianggap tidak serius?
Di sini film melakukan pembalikan yang menarik. Kita sering membicarakan perempuan sebagai korban objektifikasi dan kekerasan seksual. Tetapi melalui Dewi dan Bibit, film menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi pelaku kekerasan seksual, dan laki-laki juga dapat menjadi korban.
Perspektif feminis membantu kita melihat bagaimana tubuh dan seksualitas memiliki posisi sosial tertentu, sekaligus bagaimana relasi kuasa bekerja di dalamnya. Karena pada akhirnya, korban kekerasan seksual tidak memiliki satu jenis kelamin. Dan kondisi mental seseorang tidak pernah membuat kekerasan yang ia alami menjadi kurang serius.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Gila?
Kembali ke pertanyaan awal: siapa yang gila? Apakah Bibit karena ia berbeda? Apakah masyarakat di sekitarnya yang menormalisasi judi, perselingkuhan, eksploitasi tubuh, dan kekerasan? Atau jangan-jangan kita sendiri? Kita yang sejak awal begitu mudah menerima bahwa Bibit adalah “orang gila” hanya karena itulah label yang diberikan kepadanya.
Mungkin masalahnya bukan lagi tentang siapa yang waras dan siapa yang gila. Mungkin masalahnya adalah: siapa yang punya kuasa untuk menentukan waras dan gila?
Dan mungkin yang lebih mengganggu dari seseorang yang dianggap gila adalah ketika sesuatu yang seharusnya membuat kita bertanya, marah, atau merasa tidak nyaman sudah tidak terasa apa-apa lagi. Karena kita sudah menganggapnya biasa.
Mungkin Saya Lebih Memilih Menjadi Gila
Setelah menonton film ini, saya tidak merasa mendapatkan jawaban tentang siapa yang sebenarnya gila. Sebaliknya, saya pulang dengan lebih banyak pertanyaan. Mungkin menjadi gila bukan selalu tentang kehilangan akal. Mungkin ada kalanya seseorang disebut gila hanya karena ia tidak mau menerima sesuatu yang sudah diterima semua orang.
Dan kalau menjadi “waras” berarti mampu hidup berdampingan dengan sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu salah, hanya karena semua orang menganggapnya biasa, mungkin saya lebih memilih menjadi gila. Sebab mungkin, kadang-kadang, menjadi gila adalah keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang sudah terlalu lama dianggap biasa.
Dan mungkin, setelah menonton Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja, pertanyaan yang paling penting bukan lagi:“Siapa yang gila?” Melainkan: “Hal apa yang selama ini kita anggap biasa saja?”