Intim, hangat, dan haru. Barangkali, tiga kata itu yang paling bisa mewakili perasaan setelah menonton Istimewa, film garapan Ruben Adrian yang ditulis dan diproduseri oleh Abdullah Mansuri, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Ayah Mans, pendiri yayasan disabilitas Rumah Mans yang kini resmi berganti nama menjadi Rumah Istimewa. Berangkat dari kisah nyata dan pengalaman pribadinya dalam mendampingi anak-anak penyandang disabilitas, film ini turut membawa pengalaman Ayah Mans yang selama ini telah mendampingi lebih dari 5.000 anak penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.
Digarap dengan pendekatan yang begitu inklusif, film ini dengan lantang mengangkat kisah tentang kasih sayang, penerimaan, dan harapan yang tak pernah padam. Ceritanya berpusat pada lima anak penyandang disabilitas, Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul, di Rumah Istimewa yang dirawat dan dirangkul dengan tulus oleh Pak Mahendra, sosok yang hadir sebagai figur ayah penuh kasih bagi mereka. Namun, ketika kondisi kesehatan Pak Mahendra menurun hingga harus meninggalkan rumah secara diam-diam untuk melakukan pengobatan, kelima anak tersebut memulai perjalanan untuk mencari dimana keberadaan sosok sang ayah yang membuat mereka merasa diterima.
Lantas, memangnya hanya Pak Mahendra yang mampu menerima keberadaan mereka dengan tulus? Bagaimana dengan masyarakat di sekitar mereka?
Pertanyaan itu barangkali juga yang coba disentil oleh film ini. Sebab, pada kenyataannya, penyandang disabilitas masih kerap dipandang sebelah mata dan diperlakukan tidak semestinya. Dalam film, hal tersebut tercermin lewat beberapa karakter yang masih memandang sinis dan meremehkan kemampuan mereka. Bahkan, ketika mereka sekadar menawarkan bantuan, respons yang diterima pun masih berupa keraguan, seperti, “Emangnya bisa?”. Sementara di luar film, realitasnya tak kalah ironis. Penyandang disabilitas masih kerap dijadikan objek pity porn, seolah kondisi mereka hanya layak ditampilkan untuk mengundang rasa iba. Di sisi lain, tak sedikit pula yang menjadikan disabilitas sebagai bahan candaan dengan dalih dark jokes, sesuatu yang sangat disayangkan masih cukup sering ditemukan di media sosial atau di lingkungan “tongkrongan” yang menganggapnya sekadar humor.
Di tengah persoalan tersebut, sosok Pak Mahendra, yang diperankan dengan baik oleh aktor senior Mathias Muchus, juga menjadi salah satu hal yang menarik. Ia bukan sekadar pengasuh, tetapi juga figur ayah yang terus meyakinkan anak-anaknya bahwa mereka mampu. Motivasi semacam ini berulang kali muncul sepanjang film, bahkan hingga menuju konklusi. Kehadirannya yang selalu memberi dorongan dan menyambut pencapaian anak-anaknya dengan hangat seolah menegaskan bahwa yang mereka butuhkan bukan hanya seseorang untuk merawat, tetapi juga sosok yang percaya pada kemampuan mereka. Karena itu, ketika Pak Mahendra pergi, yang mereka cari bukan sekadar sosok yang selama ini merawat mereka, melainkan tempat untuk merasa aman dan dipercaya.
Kepercayaan itulah yang juga diberikan film ini kepada anak-anak penyandang disabilitas dengan memberi mereka ruang untuk terlibat sebagai aktor utama, bukan sekadar pendukung atau pelengkap cerita. Bahkan, Istimewa menjadi film Indonesia pertama yang menghadirkan enam anak penyandang disabilitas sebagai pemeran utama. Hal semacam ini rasanya layak diapresiasi, lantaran keterlibatan mereka tidak berhenti pada persoalan representasi, tetapi juga menempatkan mereka sebagai pusat cerita dan penggerak narasi yang terus hadir sepanjang film. Mereka tidak sekadar hadir untuk dilihat, tetapi juga diberi ruang untuk tampil, bercerita, dan membawa pengalaman mereka sendiri ke layar lebar. Tapi sayangnya, posisi ini terasa jauh berbeda dari bagaimana penyandang disabilitas kerap ditempatkan hanya sebagai objek rasa iba.
Barangkali, pada titik itulah film ini terasa semakin memiliki urgensi dan berkaitan dengan realitas yang terjadi dikehidupan nyata. Kehadiran film ini setidaknya dapat menjadi pemantik agar penonton perlahan lebih peka terhadap persoalan yang masih dihadapi penyandang disabilitas. Bukan hanya tentang bagaimana mereka diperlakukan, tetapi juga tentang bagaimana kesempatan, ruang, dan kepercayaan terhadap kemampuan mereka. Sebab, mereka bukan sekadar individu yang perlu dikasihani. Mereka juga memiliki mimpi, potensi, dan hak untuk bekerja serta berkarya seperti manusia lainnya.
Kehadiran film seperti Istimewa sudah semestinya ada, terlebih film yang mengangkat persoalan disabilitas masih jauh lebih jarang dibandingkan film dengan isu atau genre yang lebih populer. Meski tak luput dari kekurangan dan mungkin belum sempurna dalam menyampaikan seluruh persoalan tersebut, barangkali justru di situlah film ini mencoba berbicara tentang manusia yang pada dasarnya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kendati masih memiliki sejumlah keterbatasan dalam penyampaiannya, film ini setidaknya mampu membuka ruang untuk melihat lebih dekat kehidupan anak-anak penyandang disabilitas, tentang perjuangan, mimpi, dan potensi yang mereka miliki. Sebab, mereka tidak bisa berjalan sendiri, begitu pula kita. Dan bukankah mereka juga bagian dari kita?