Sela

The Last of Us dan Standar HBO

Muhammad Rizal ·
The Last of Us dan Standar HBO

Tidak banyak serial HBO yang sempat saya ikuti. Jika dibandingkan dengan Netflix, mungkin perbandingannya sekitar tiga banding tujuh. Karena itu, The Last of Us menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat kembali bagaimana HBO membangun sebuah cerita. Di Indonesia, serial ini sempat ramai diperbincangkan, termasuk karena kemunculan unsur-unsur yang berkaitan dengan Indonesia. Namun, setelah menonton episode pertamanya, justru ada hal lain yang terasa lebih menarik untuk dipikirkan.

Bukan semata dunia pascaapokaliptik yang ditawarkan. Tema tersebut sudah cukup sering muncul dalam berbagai film dan serial beberapa tahun terakhir. Yang terasa berbeda justru ritme penceritaan dan cara serial ini memperlakukan penontonnya.

Sebagai kesan awal, HBO tampaknya memiliki kecenderungan naratif yang sedikit berbeda dengan Netflix. Tentu ini bukan kesimpulan yang mutlak, apalagi hanya didasarkan pada sebagian kecil tontonan. Namun, pengalaman menonton beberapa judul dari kedua platform tersebut menghadirkan impresi yang cukup menarik.

Banyak produksi Netflix, setidaknya yang telah saya tonton, cenderung membangun harapan bagi penonton. Konflik memang hadir, tetapi sering kali masih menyisakan ruang bagi tokoh utama untuk bertahan atau menemukan jalan keluar. Bahkan ketika ceritanya keras dan penuh kekerasan, penonton tetap merasa memiliki pegangan tentang siapa yang kemungkinan besar akan bertahan hingga akhir. Pola semacam ini membuat pengalaman menonton terasa lebih nyaman sekaligus mudah diikuti.

The Last of Us justru memberi kesan yang berbeda. Sejak episode pertamanya, serial ini membangun dunia yang suram, brutal, dan penuh ketidakpastian. Tidak ada jaminan bahwa karakter yang tampak penting akan selalu aman. Dunia yang dibangun terasa lebih acuh terhadap para tokohnya. Siapa pun dapat menjadi korban ketika cerita memang menghendakinya. Akibatnya, setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi yang nyata dan setiap ancaman benar-benar terasa sebagai ancaman.

Barangkali inilah yang saya sebut sebagai "standar HBO". Bukan berarti semua produksi HBO selalu seperti ini atau semua produksi Netflix selalu sebaliknya. Akan tetapi, ada kesan bahwa HBO lebih berani membiarkan cerita berkembang tanpa terlalu banyak memenuhi ekspektasi penonton. Alih-alih memberikan rasa aman, serialnya justru mengajak penonton hidup dalam ketidakpastian. Bagi sebagian orang, pendekatan seperti ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih menegangkan sekaligus lebih emosional.

Hal yang berkesan justru muncul setelah serial selesai ditonton. Terlalu sering mengonsumsi tontonan dari platform tertentu rupanya dapat membentuk ekspektasi secara perlahan. Penonton mulai terbiasa dengan pola-pola tertentu: tokoh utama akan selamat, konflik akan menemukan penyelesaian, atau cerita akan berakhir dengan harapan. Ketika bertemu serial yang tidak mengikuti pola tersebut, pengalaman menonton terasa berbeda, bahkan sedikit mengganggu.

Tentu saja, refleksi ini masih sangat subjektif. Penilaian terhadap HBO maupun Netflix jelas tidak bisa disimpulkan hanya dari beberapa judul. Bahkan, The Last of Us sendiri baru sampai episode pertama. Sangat mungkin seluruh kesan ini berubah setelah serialnya selesai, atau setelah menonton lebih banyak produksi dari kedua platform tersebut.

Namun, justru karena masih berupa kesan awal, refleksi ini terasa menarik. Platform bukan hanya menjadi tempat mendistribusikan film dan serial, tetapi juga perlahan membentuk kebiasaan menonton. Tanpa disadari, penonton ikut membangun standar tentang bagaimana sebuah cerita "seharusnya" berjalan. Mungkin karena itu, sesekali berpindah platform juga penting. Bukan hanya untuk mencari tontonan baru, tetapi untuk mengingatkan bahwa tidak semua cerita harus mengikuti pola yang sama.

Bagikan: Facebook WhatsApp
✓ Link berhasil disalin!
Muhammad Rizal
Penulis
Muhammad Rizal

Film and Literature Studies

Lihat semua tulisan →

Dari Rubrik yang Sama

Setelah Sampah Terangkut, Siapa yang Kita Lihat? Menyiasati Keterbatasan dengan Gerobak Djumadi
Sela

Setelah Sampah Terangkut, Siapa yang Kita Lihat? Menyiasati Keterbatasan dengan Gerobak Djumadi

Ada pekerjaan yang keberadaannya sangat dibutuhkan, tetapi orang-orang yang melakukannya belum tentu mendapatkan penghargaan yang sepadan. Kita membutuhkan lingkungan yang bersih, sampah yang terangkut, dan kehidupan masyarakat yang berjalan sebagaimana mestinya. Namun, dalam keseharian, perhatian kita sering berhenti pada hasil akhirnya: lingkungan yang bersih. Kita jarang memikirkan siapa yang bekerja di balik kebersihan itu, bagaimana mereka menjalani pekerjaannya, dan apa yang harus mereka tanggung untuk terus bertahan hidup. ...

Armada Fatkhur Syarif 18 Oct 2026
Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja: Jadi, Siapa yang Sebenarnya Gila?
Sela

Hal-Hal Gila yang Kau Anggap Biasa Saja: Jadi, Siapa yang Sebenarnya Gila?

Sebagai seseorang yang hidup dengan pengalaman mental illness, setiap bulan datang untuk kontrol, dan pernah memiliki pengalaman mengantar anggota keluarga untuk dirawat di rumah sakit jiwa, saya punya hubungan yang cukup dekat dengan ruang yang sering kita sebut sebagai “tempat orang gila”. Saya pernah menginap di rumah sakit jiwa. Saya melihat pasien-pasiennya dari dekat, mengamati mereka, berbicara dengan mereka, melihat bagaimana mereka diperlakukan, dan bagaimana orang-orang di luar sana membicarakan mereka. Mungkin karena itu, ketika menonton ...

Yasmin Hasna Dzakiyyah 22 Sep 2026
Obsession (2026), Apa Itu Cinta?
Sela

Obsession (2026), Apa Itu Cinta?

Sebagai seseorang yang masih sering memikirkan apa arti dari sebuah relationship atau cara kita mencintai, Obsession (2026) terasa seperti peringatan yang mungkin cukup mengusik pikiran. Film ini seperti membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya cinta itu seperti apa? Apakah cinta yang selama ini kita yakini adalah “cinta” yang sebenarnya? Atau jangan-jangan ego ingin memiliki? ...

Sulthona Imam Samudra 30 Aug 2026