Tidak banyak serial HBO yang sempat saya ikuti. Jika dibandingkan dengan Netflix, mungkin perbandingannya sekitar tiga banding tujuh. Karena itu, The Last of Us menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat kembali bagaimana HBO membangun sebuah cerita. Di Indonesia, serial ini sempat ramai diperbincangkan, termasuk karena kemunculan unsur-unsur yang berkaitan dengan Indonesia. Namun, setelah menonton episode pertamanya, justru ada hal lain yang terasa lebih menarik untuk dipikirkan.
Bukan semata dunia pascaapokaliptik yang ditawarkan. Tema tersebut sudah cukup sering muncul dalam berbagai film dan serial beberapa tahun terakhir. Yang terasa berbeda justru ritme penceritaan dan cara serial ini memperlakukan penontonnya.
Sebagai kesan awal, HBO tampaknya memiliki kecenderungan naratif yang sedikit berbeda dengan Netflix. Tentu ini bukan kesimpulan yang mutlak, apalagi hanya didasarkan pada sebagian kecil tontonan. Namun, pengalaman menonton beberapa judul dari kedua platform tersebut menghadirkan impresi yang cukup menarik.
Banyak produksi Netflix, setidaknya yang telah saya tonton, cenderung membangun harapan bagi penonton. Konflik memang hadir, tetapi sering kali masih menyisakan ruang bagi tokoh utama untuk bertahan atau menemukan jalan keluar. Bahkan ketika ceritanya keras dan penuh kekerasan, penonton tetap merasa memiliki pegangan tentang siapa yang kemungkinan besar akan bertahan hingga akhir. Pola semacam ini membuat pengalaman menonton terasa lebih nyaman sekaligus mudah diikuti.
The Last of Us justru memberi kesan yang berbeda. Sejak episode pertamanya, serial ini membangun dunia yang suram, brutal, dan penuh ketidakpastian. Tidak ada jaminan bahwa karakter yang tampak penting akan selalu aman. Dunia yang dibangun terasa lebih acuh terhadap para tokohnya. Siapa pun dapat menjadi korban ketika cerita memang menghendakinya. Akibatnya, setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi yang nyata dan setiap ancaman benar-benar terasa sebagai ancaman.
Barangkali inilah yang saya sebut sebagai "standar HBO". Bukan berarti semua produksi HBO selalu seperti ini atau semua produksi Netflix selalu sebaliknya. Akan tetapi, ada kesan bahwa HBO lebih berani membiarkan cerita berkembang tanpa terlalu banyak memenuhi ekspektasi penonton. Alih-alih memberikan rasa aman, serialnya justru mengajak penonton hidup dalam ketidakpastian. Bagi sebagian orang, pendekatan seperti ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih menegangkan sekaligus lebih emosional.
Hal yang berkesan justru muncul setelah serial selesai ditonton. Terlalu sering mengonsumsi tontonan dari platform tertentu rupanya dapat membentuk ekspektasi secara perlahan. Penonton mulai terbiasa dengan pola-pola tertentu: tokoh utama akan selamat, konflik akan menemukan penyelesaian, atau cerita akan berakhir dengan harapan. Ketika bertemu serial yang tidak mengikuti pola tersebut, pengalaman menonton terasa berbeda, bahkan sedikit mengganggu.
Tentu saja, refleksi ini masih sangat subjektif. Penilaian terhadap HBO maupun Netflix jelas tidak bisa disimpulkan hanya dari beberapa judul. Bahkan, The Last of Us sendiri baru sampai episode pertama. Sangat mungkin seluruh kesan ini berubah setelah serialnya selesai, atau setelah menonton lebih banyak produksi dari kedua platform tersebut.
Namun, justru karena masih berupa kesan awal, refleksi ini terasa menarik. Platform bukan hanya menjadi tempat mendistribusikan film dan serial, tetapi juga perlahan membentuk kebiasaan menonton. Tanpa disadari, penonton ikut membangun standar tentang bagaimana sebuah cerita "seharusnya" berjalan. Mungkin karena itu, sesekali berpindah platform juga penting. Bukan hanya untuk mencari tontonan baru, tetapi untuk mengingatkan bahwa tidak semua cerita harus mengikuti pola yang sama.